Melawan Lupa | KH Mahfud Sumolangu, Kebumen (2)

Erhaje88

Oleh: Ahmad Baso

Baca artikel sebelumnya: Melawan Lupa | Kiai Mahfudz Sumolangu, Kebumen (1)


Silsilah Kiai Mahfudh Somalangu, Kebumen

Usai perjanjian KMB yang diteken Hatta desember 1949, tentara KNIL digabung ke TNI kita yang kebanyakan kader PETA dan laskar rakyat.
Kiai Mahfudh protes masuknya KNIL ke TNI. Menuntut sisa sisa laskar rakyat diintegrasikan ke TNI, bukan malah memasukkan eks tentara Belanda ke tentara nasional kita. Tapi ya itulah maunya Hatta dengan kolaborasi beberapa agen Kompeni dan pihak pro pemerinthan bersih Hatta katanya.
Pas Eks KNIL masuk Jawa Tengah dengan segenap peralatan tempur mereka yang canggih, target pertama mereka adalah balas dendam atas Kiai Mahfudh dan AOI-nya di tahun 1950. Pintarnya gembong Hatta dan KNIL, yang dipakai untuk menggebuk AOI adalah putra Kebumen Letkol Achmad Yani, kader PETA dan teman seperjuangan Kiai Mahfud sendiri dalam revolusi kemerdekaan.
Status berikut akan bahas laporan surat rahasia Yani ke atasannya tanggal 1 Februari 1950 tentang sosok Kiai Mahfudh dan kiprahnya yang tokoh NU, visinya tentang NKRI, anti Darul Islam Kertosuwiryo dan jasanya selama perjuangan kemerdekaan.
Apa boleh buat. Pas 1 Agustus 1950 Yani sendiri pimpin operasi pembasmian AOI. Anggota pasukannya eks tentara KNIL ...!

Sejak itu hampir semua tokoh NU benci Yani sampai 1965. Dan Yani juga punya agenda bersihkan wong NU dari pemerintahan kalau pas pegang kekuasaan.

SILSILAH KEPENGASUHAN PONDOK PESANTREN AL-KAHFI SOMALANGU, Sumberadi, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia.
1. Sayid As_Syekh Muhammad 'Ishom Al Hasani/Sayid As_Syekh Abdul Kahfi Awwal Al Hasani (1424-1609) Makam di Lemah Lanang, Kebumen.
2. Sayid As_Syekh Muhtarom Al Hasani(1473-1677) Makam di Gabudan, Solo.
3. Sayid As_Syekh Jawahir Al Hasani (1504-1684) Makam di Kudus.
4. Sayid As_Syekh Muhammad Yusuf Al Jawahiri Al Hasani As_Sulasi, Makam di Kudus.
5. Sayid As_Syekh Hasan Al Indis/ Sayid As_Syekh Hayatul Hukmi Al Hasani.
6. Sayid As_Syekh Tajul 'Arifin Abdul Karim Al Jawahiri Al Hasani, Makam diGujarat, India.
7. Sayid As_Syekh Fathurrohman Al Jawahiri Al Hasani, Makam di Somalia.
8. Sayid As_Syekh Misbahus Siraj Al Jawahiri Al Hasani, Makam di Sulawesi.
9. Sayid As_Syekh Muhammad Yusuf Al Jawahiri Al Hasani (1728-1817) Makam di Bulus Pesantren, Kebumen.
10. Sayid As_Syekh Zaenal 'Abidin Al Hasani (1473-1677) Makam di Bulus Pesantren, Kebumen.
11. Sayid As_Syekh Muhammad MarwanAl Hasani (1795-1868) Makam di BulusPesantren, Kebumen.
12. Sayid As_Syekh Ibrahim Mahmud AlHasani/Sayid As_Syekh Abdul Kahfi Atsani (1824-1915) Makam di Lemah Lanang, Kebumen.
13. Sayid As_Syekh Abdurrahman Al Hasani (1855-1938) Makam di Jeddah, Saudi Arabia.
14. Sayid As_Syekh Mahfudz Al Hasani (1901-1950) Makam di Selok, Cilacap.
15. Sayid As_Syekh Chanifuddin Al Hasani (1936 -1983) Makam di Lemah Lanang, Kebumen.
16. Al Ustadz Sayid 'Afifuddin Chanif Al Hasani (Pengasuh Pesantren Al_Kahfi Somalangu Periode Sekarang)

Surat Rahasia letkol A. Yani Tentang Ideologi Politik Kiai Mahfuh Somalangu

Ini surat rahasia Letkol Achmad Yani kepada atasannya, Pangima Divisi Diponegoro, Jawa tengah, pada 1 Februari 1950 -- kemudian dimuat dalam buku biografi Jend. Achmad Yani. Surat ini memberi assessment politik-kemiliteran tentang KH Mahfud sebelum digelar operasi militer besar-besaran pada Agustus 1950 menumpas AOI.

Surat ini, didasarkan pada para informan dan intel Yani di sekitar Kebumen, sudah cukup menggambarkan segenap orientasi ideologis-politik tokoh NU, guru tarekat dan komandan AOI ini.
Membahas surat ini bisa jadi satu buku sendiri untuk melihat bahwa inilah sebetulnya ideologi Islam Nusantara, ini pula haluan politik kebangsaan NU untuk NKRI, seperti dipantulkan oleh kiprah heroik almaghfurlah Kiai Mahfud. Kita simak isi surat Yani itu:

1. Sikap AOI sudah clear soal kebijakan re-ra atau rasionalisasi tentara. Tidak ada masalah. Tapi mengapa AOI dihabisi? Surat ini menyebut AOI memiliki suplai logistik senjata yg menakutkan (1 banding 3). Bandingkan kasus serupa di Jawa: sejumlah kiai mantan komandan laskar disuruh kembalikan senjata. Banyak kiai tidak mau karena pertimbangan keamanan. Akhirnya ada yg dipenjara seperti KH Dhofir Jember.
Dalam surat Yani itu disebut keberatan Kiai Mahfud untuk dilucuti senjata dan dipecah-pecah anggota laskarnya: terjaminnya rasa aman bagi warga dari "ancaman Westerling, Darul Islam, dan bahaya merah".

2. AOI dianggap elemen "liar" dalam TNI oleh aparat militer. Karena itu harus dibersihkan. Argumen Yani: ada faksi kecil dalam AOI yang bikin masalah. Elemen kecil ini yang harus dibereskan agar tidak bikin masalah. misalnya ada yang menuduh: elemen kecil itu gabung ke DI/TII. Catatan: tuduhan "DI/TII" bagi para mantan komandan laskar rakyat adalah justifikasi apriori bagi aparat militer untuk membabat elemen-elemen tentara (dari laskar rakyat santri-kiai) yang tidak mau nurut sama atasan di pusat. Kasusnya banyak. Datanya ada. Seperti kiai revolusioner KH Abu Syuja'i Tegal, santri Hadlratusysyekh KH Hasyim Asy'ari, ditangkap bersama anak buahnya, karena tuduhan mematikan seperti ini.


3. Analisis Yani atas sosok-pribadi Kiai Mahfudh ysng disebutnya "Romo Pusat" -- sebutan ini layak dianalisis panjang. Mengapa ada sebutan "pusat"? Mengapa Yani menyebut beliau "diktator kecil", "ego-sentris", "semua keinginan Romo pusat sudah jadi hukum sendiri"? Bandingkan stereotip seperti yg hampir sama diberikan oleh anak-anak kampus modern... stereotip dalam konteks power struggle lalu dibaptis ilmiah ke dalam ranah akademik.

4. Bagian 2 surat Yani ini penuh dengan semangat "power struggle" dalam lingkup TNI waktu itu. "Power struggle" antara siapa dan siapa, kelompok yg mana dengan yg mana? Yani tidak mau terus terang dalam surat itu. Tapi kalau kita pakai analisis struktural dan dekonstruksi (tafkik) jelas tergambar di sana pertarungan itu: faksi KNIL vs faksi PETA, faksi tentara pro-Hatta-Nasution (yg setuju hasil KMB) vs pro Sri Sultan Hamengkubuwono (anti KMB, kelanjutan visi "tentara rakyat" Jend. Sudirman), faksi laskar santri vs tentara kader Barat ...
Surat Yani yg menyebut kedekatan Kiai Mahfud dengan Sultan Yogya itu (pernah jadi menteri pertahanan yang ikut mengkader anggota laskar dan tentara pro Jend. Sudirman) menunjukkan problematik faksionalisasi dalam tubuh tentara itu. Maka Yani diminta oleh atasannya untuk membereskan salah satu faksi terkuat anti Hatta-Nasution, yaitu AOI di Keresidenan Kedu.


5. Surat Yani juga menyebut politik-keagamaan Kiai Mahfudh yang menuntut pesantrennya diberi status "tanah perdikan" -- sebuah simbol kemerdekaan yang dulu dinikmati para komunitas pesantren di Jawa di era Kompeni. Seperti status Pondok Sukorejo Situbondo yang diberikan tentara NICA sebagai tanah "heilige", tanah kramat, yang tidak boleh diganggu (makanya banyak anggota laskar berlindung di pondok Kiai As'ad itu). Tapi rezim Sjahrir hingga Hatta masa itu sudah menghapus status tanah seperti ini. Sehingga mengundang banyak protes di kalangan kiai. Status tanah ini dianggap berbahaya secara ekonomis (bagi rezim kapitalis), seperti halnya AOI berbahaya, kalau independen dan nasionalis, bagi rezim militer pro kapitalis global atas nama "profesionalisme".
Kayaknya Yani tidak paham soal seluk-beluk tanah perdiakan atau tanah pamutihan ini.

6. Bagian kesimpulan surat Yani di atas sangat spesifik tentang garis politik kebangsaan Kiai Mahfudh dan AOI-nya: politiknya emngikutri modle politik masyumi-nya Hadlratusysekh KH hasyim Asy'ari, strategi militer nasionalnya mengikuti model Laskar Hizbullah-Sablillah pimpinan KH Wahab Chasbullah dan KH Masjkur; dan strategi militer operasionalnya sangat menentang gerakan pemberontakan Darul Islam.

7. Usulan Yani kepada atasannya: kompromi, berunding atau jalan damai. Aksi militer hanya dilakukan untuk faksi kecil AOI yang disebutnya "gerombolan liar".
Tapi mengapa kemudian pada 1 Agustus 1950, enam bulan setelah surat Yani itu, justru yang terjadi sebaliknya: di luar dari usulan Yani di atas, yakni operasi besar-besaran menghabisi total semua orang AOI ...! Itu berarti power struggle dalam tubuh TNI saat itu sangat keras, hingga satu faksi anti AOI juga bertindak keras.

Pertanyaan berikut yang harus diangkat: mengapa malah Yani mau jadi komandan operasi militer itu? Apa Yani sedang "bermain" untuk mengendarai aksi penumpasan AOI sebagai kartu "political game" ke faksi-faksi dalam tentara? Sehingga bisa tampil sebagai tokoh baru di luar dari faksi lama yg terus bertikai itu?
Karir cemerlang Jend. Yani -- mengalahkan pamor Jend. Haris Nasution, dirangkul Amerika di tahun 1950an-1960an, hingga disebut-sebut calon pengganti Soekarno -- membuktikan sendiri apa isi jawaban pertanyaan kita itu.

(facebook/ahmad.baso.1)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018