Tentang Zakir Naik

Erhaje88

Oleh: Ulil Abshar Abdalla


Setiap zaman meminta jenis, gaya dan mazhab pemikirannya sendiri. Li kulli zamanin madzahibuhu al-khass. لكل زمان مذهبه الخاص

 Di era politik identitas yang menjadi gejala global sekarang, gaya pemikiran seperti Zakir Naik memang paling laku dan laris manis.
Sebab gaya pemikiran ini lebih memberikan dan menjamin "sense of identity".
Anda serang seperti apapun, gaya pemikiran ini akan tetap merajalela. Sebab pasar membutuhkannya. Anda ndak bisa melawan hukum pasar.
Yang bisa kita lakukan adalah mencari dan membangun ceruk pasar lain untuk memasarkan gaya pemikiran yg berbeda.
Do I sound defeatist? 😁😁😁

 Gaya pemikiran Zakir Naik bukan hal baru dalam sejarah pemikiran Islam. Di era klasik Islam (kira-kira abad ke-8 hingga abad ke-12), gaya pemikiran polemis ala Zakir Naik ini sangat populer. Ada penjelasan historisnya saat itu. Ekspansi Islam ke wilayah di luar jazirah Arab (seperti kawasan Persia dan Syam yg sangat dipengaruhi warisan peradaban Greko-Roman) mempertemukan umat Islam dengan agama-agama dan madzhab pemikiran lain.

(Baca juga: Benarkah Zakir Naik Ulama Hebat Internasional?)

Menghadapi situasi semacam itu, ada kebutuhan yg besar pada umat saat itu untuk corak pemikiran teologis tertentu. Yakni, wacana teologis yang apologetik (الخطابات اللاهوتية الدفاعية).

 Wacana semacam ini dibutuhkan untuk membela doktrin Islam dari "perceived threat" yang datang dari agama dan mazhab pemikiran lain.
Situasi serupa muncul lagi di abad ke-14, saat Perang Salib berkecamuk, dan melahirkan corak teologi apologetik lain di tangan ulama terkenal, Ibn Taimiyyah (w. 1328) yang menulis kitab khusus untuk mengkritik teologi Kristen: الجواب الصحيح لمن بدل دين المسيح (Al-Jawab al-Sahih Li Man Baddala Din al-Masih [Jawaban yang Rasional atas Mereka yang Mendistorsikan Agama Yesus Kristus]).

 Tradisi pemikiran apologetik sangat dalam akarnya di dalam tradisi intelektual Islam sejak awal. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi generasi baru sarjana Islam yang hendak membangun corak wacana yang lain, yaitu wacana dialogis-apresiatif (الخطابات الحوارية والتفاهمية).
Sekian.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: