Menyongsong Kebodohan Abad Kegelapan

Erhaje88

Oleh: Acin Muhdor

Pernahkah kita menarik sebuah kesimpulan tanpa premis-premis yang tersusun? Saya rasa hampir dari kita semua pernah melakukan itu. Dan. sekarang waktu yang tepat untuk membahasnya.

Sekawanan manusia yang lapar akan kekuasaan teokratis, dengan label keagamaan dan seperangkat alat pengkafiran, telah benar-benar bersatu. Bersatu untuk melupakan sejarah. Sejarah bangsa ini.
Bangsa yang katanya dibangun juga oleh intervensi para ulama dan agamawan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dalam perdebatan harian di media-media kita, di time line kita bahkan di warkop-warkop terdekat kita. Tentang mana yang lebih unggul antara negara demokrasi dengan negara syariah? Ya, kita sedang menghadap kepada ahistorisasi nasional, dan ini kemunduran.

Rekan-rekan saya yang saat ini berpaling dari moderasi pemikiran yang kontekstual dan komprehensif menuju "kelakar" ideologi tekstualis dan sukses menjadi ahli surga, bahkan sebelum kematiannya. Berulang kali mengingatkan, bahwa kemerdekaan bangsa ini juga diraih dan pertumbuhannya dibangun oleh orang-orang soleh yang alim dan konsisten.

Bukan Hanya Cendekiawan Saja

Para ulama pra kemerdekaan turut serta menyumbangkan ide, darah, keringat dan perlawanan untuk memerdekakan bangsa ini. Dari situs pro negara syariah, saya dapat beberapa nama ulama yang turut berkontribusi, di antaranya: Pangeran Dipenogoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teungku Cik Ditiro, KH Hasyim Asy’ari, KH Abbas Buntet, KH Zainal Mustafa, dll.

Kita sudah selayaknya berhenti menentang semua argumen sejarah hanya karena perbedaan nama dan detail kisah. Kita akan dengan mudah percaya bahwa negri ini tercipta atas jasa para pejuang yang dalam nadinya mengalir kesalehan, kerendahan hati, ketulusan, kemuliaan, penghambaan pada Allah SWT dan berbagai benih identitas kemusliman lainnya.

Yang harus dikritisi adalah, apa yang orang-orang soleh itu perbuat setelah Indonesia merdeka dan setelah peresmian pancasila sebagai dasar negara? Apakah mereka membangkang? Apakah mereka berdebat?

Ceramah Habib Rizieq soal perubahan urutan asas "Ketuhanan yang Maha Esa" dalam Pancasila: tadinya bukan di urutan 1 dan menjadi urutan 1. Sangat menyegarkan saya dan mungkin bayak dari kita semua. Artinya, ulama berperan sangat penting, dan nilai-nilai ketuhanan juga turut terejawantah dalam lahirnya sebuah ideologi yang menjadi asas berkebangsaan.

Ini kabar baik untuk kita semua, namun pertanyaan selanjutnya, apakah ada diskusi atau debat antara para ulama dan para pejuang bangsa yang sekular dalam proses perubahan urutan asas "Ketuhanan Yang Maha Esa", kita bisa katakan "jelas ada, dan ulama pemenangnya".

Lalu, bila ada sebuah upaya merubah sistem negara yang demokratis dan berkeadaban dan juga diawali oleh sebuah asas mulia yang diperjuangkan oleh idealisme para ulama-ulama mendiang, apakah ini bukan sebuah pembangkangan pada mereka? Dan uniknya orang-orang itu juga yang berusaha merusak perjuangan para ulama pejuang kemerdekaan.

Sobat, saya hanya ingin katakan. Debat seputar negara syariah dan demokrasi sudah terjadi sejak awal lahirnya bangsa ini. Para ulama terdahulu tidak bodoh, dengan memaksakan negri yang majemuk untuk tunduk pada satu bendera keimanan. Sehingga asas demokrasi sangat mereka junjung tinggi dan kemuliaan Islam menjadi pengawal setia negri yang beradab ini.

Bila, kita melihat semakin kesini, negri ini semakin tanpa adab. Bisa jadi bukan karena sistemnya bukan Syariah. Tapi karena para monster berbirahi Syariah ini secara nyata meyakini bahwa para ulama pra kemerdekaan hanya sekelompok marbot masjid dirar yang gagal dalam upaya homogenisasi nusantara. Dan para monster berbirahi syariah ini menjadikan keyakinan itu sebagai dasar gerakan-gerakannya.

Saya bantu susunkan premisnya:

Premis 1: Ulama pra kemerdekaan berjuang untuk bangsa ini

Premis 2: Ulama pra kemerdekaan pun berdiskusi dan mendapatkan hasil mufakat.

Premis 3: Anugerah NKRI yang juga persembahan dari para ulama mendiang, adalah sistem demokrasi berasaskan Pancasila dan UUD 45.

Lalu, bila ada yang berupaya mengubah ini, bukankah dia juga penista para ulama?

- SALAM TOLERANSI -

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: