Menyimak Pidato Kebangsaan Anies Baswedan

Erhaje88

Oleh: Muhammad A S Hikam


Pidato calon Gubernur DKI, Anies R. Baswedan (AB) pada Senin malam (3/4/2017) di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, menarik untuk disimak secara kritis karena didalamnya bermuatan pandangan-pandangan beliau mengenai bagaimana visi dan misinya sebagai cagub dalam Pilkada 2017 dan juga pandangan dasar atau filosofis yang menjadi fondasinya.
Pandangan dasar tersebut, setidaknya bagi saya, tak kalah penting untuk dicermati karena dari sanalah seluruh visi, misi, aksi, dan program kerja Paslon 3, khususnya AB, akan direncanakan, diperjuangkan, dan diwujudkan dalam kenyataan.

Menyimak video pidato kebangsaan AB yg bertema "Persatuan Indonesia" itu, terdapat beberapa poin yang patut kita apresiasi. Antara lain yg terpenting adalah:
 1) Komitmen AB terhadap demokrasi dan nilai-nilai dasar seperti hak asasi manusia, termasuk hak warganegara untuk memilih dan di pilih tanpa ada pemaksaan dari manapun;
 2) Komitmen AB terhadap penegakan dan ketaatan hukum oleh penyelenggara negara (birokrasi pemerintah), perlu diacungi jempol.
Dalam hal ini AB menyatakan bahwa Pemerintah daerah harus patuh terhadap hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan tanpa pandang bulu;
Dan ke 3) Komitmen AB terhadap pembangunan DKI yang berorientasi kepada manusia dan peningkatan kualitas manusia, bukan hanya berorientasi kepada apa yang disebut beliau sebagai 'pembangunan benda-benda mati', seperti infrastruktur.

Namun demikian cacatan kritis perlu diberikan kepada AB dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Pandangan beliau mengenai kebhinekaan, yang dianggap tidak perlu diperjuangkan karena ia adalah sebuah fakta. Yang perlu diperjuangkan adalah 'persatuan dalam kebhinnekaan'.
3. Sikap AB terhadap gagasan-gagasan dan aksi-aksi yang bisa disebut telah mencederai prinsip demokrasi dan persatuan, khususnya radikalisme dan SARA dalam proses Pilkada DKI.
3. Kontradiksi AB dalam menyikapi model pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah yang sedang berkuasa di DKI, khususnya pembangunan infrastruktur.


Hemat saya, pandangan AB mengenai kebhinnekaan sebagai fakta statis sehingga tak perlu diperjuangkan adalah problematik. Sebab kebhinekaan tidak hanya bisa dilihat secara empiris, tetapi juga dalam bentuk gagasan, ide-ide, dan persepsi serta perilaku. Manusia bisa saja memiliki kemiripan dalam kesukuan dan keberagamaan, tetapi belum tentu mereka share dalam gagasan, pemikiran, ideologi, dan perilaku yang muncul dari elemen-elemen tersebut. Kebhinnekaan sebagai fakta empiris dan fisik adalah cara berfikir yang reduksionistik dan materialistik. AB menafikan aspek budaya yang bisa bersifat cair (fluid) dan samar (blurred), sehingga selalu merupakan hal yang memerlukan pemahaman, penyikapan, dan pengelolaan terus menerus yang sifatnya 'open-ended'.

Walhasil kebhinnekaan bukan hanya fakta fisik dan empiris belaka, sehingga pemahaman tentangnya pun perlu suatu perjuangan, kendati mungkin tidak sama dengan perjuangan fisik. Implikasinya jika beliau akan memperjuangkan persatuan dalam kebhinnekaan, maka pada saat yang sama sejatinya juga memperjuangkan kebhinnekaan itu sendiri. Kelemahan dari cara pandang AB adalah melihat kebhinnekaan secara statis dan menafikan pentingnya pemahaman diri (self-understanding) dari subyek-subyek yang berbeda. Perjuangan untuk memperkokoh persatuan akan cenderung mengutamakan rekayasa sosial dan politik yang formal namun mengabaikan aspek budaya, tradisi, dan praksis yang khas.

Pandangan inilah yang kemudian menjelaskan mengapa ketika AB bicara mengenai problem kehidupan beragama di DKI, misalnya, beliau hanya secara eksklusif bicara tentang problem yang dihadapi sebagian ummat Islam yang menurut perlu diperhatikan. Namun AB sama sekali tidak menyinggung problem yang dihadapi oleh komunitas ummat beragama lain di DKI. Demikian pula AB tidak menyentuh sedikitpun masalah SARA yang dipolitisasi dalam kampanye Pilkada DKI. Jika AB memang peduli dengan masalah membangun persatuan dalam kbhinnekaan, maka isu SARA semestinya menjadi salah satu top priority beliau. Bagaimana AB akan membangun persatuan dalam kebinnekaan jika tidak berfikir inklusif?

Yang terakhir, kritik AB terhadap pembangunan infrastruktur yang menjadi salah satu primadona pemerintahan Ahok menjadi kontradkitif dengan statemennya yang menginginkan agar sistem transportasi publik yang integratif dibangun di DKI. Bukankah salah satu top priority dari pembangunan infrastruktur oleh Pemda DKI adalah sistem trasportasi integratif tersebut? Bahwa proses tersebut masih berjalan dan belum selesai, itu masalah lain. Tetapi sulit untuk dibantah bahwa pembangunan infrastruktur transportasi di DKI juga dilaksanakan dalam rangka meraih tujuan 'memanusiakan warga DKI'.

Simak video pidato kebangsaan oleh Anies Baswedan dibawah ini:

Baca opini terkait: Kawan Lama Anies, M Monib, Kritik Pidato Kebangsaannya

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018