Lain di Arab, Lain di Indonesia

Erhaje88

Oleh: Sumanto Al Qurtuby


Banyak informasi tentang "dunia Arab" yang tidak akurat di Indonesia karena disebarluaskan oleh kelompok-kelompok ideologis yang memiliki agenda untuk mendakwahkan jenis keislaman tertentu (yang berbasis "Salafisme" misalnya),
oleh aneka media sektarian, maupun oleh orang-orang yang tidak kredibel yang tidak memiliki wawasan memadai dan perangkat keilmuan yang pas tetapi berlagak seperti "pengamat beken".

 Contohnya adalah para penceramah, pendakwah, atau ustad lulusan Arab dan Timur Tengah. Meskipun lulusan madrasah atau kampus di Arab dan Timur Tengah, mereka tidak secara otomatis mengetahui "daleman" masyarakat Arab dan Timur Tengah karena selama belajar disini, mereka tidak pernah mempelajari masyarakat setempat.
 Selama sekolah, mereka kan mempelajari buku dan membaca teks, bukan mempelajari masyarakat dan membaca fenomena-fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Mereka hanya "menggauli" kitab, bukan "menggauli" masyarakat.
Akivitas mereka selama belajar di Tanah Arab itu ubak-ubek atau kombak-kambek dari asrama ke kampus atau masjid balik lagi ke asrama / tempat kos-kosan.
 Kalau yang di Saudi, aktivitas mereka ditambah ke ka'bah di Makah atau Masjid Nabawi di Madinah, umrah-umroh kayak setrikaan ngumpulin pahala he he. Pergaulan mereka juga dengan sesama orang Indonesia. Jadi, meskipun tinggal di Arab, mereka tidak mengerti perkembangan sosial dan "jeroan" masyarakat Arab.

 Yang lebih tahu tentang "jeroan" masyarakat Arab itu bukan para ustad dan dai (atau jamaah haji/umroh yang hanya tahu sekilas sekitar Masjid Nabawi dan Masjid Haram) tapi justru para TKI/TKW, karena mereka punya "pengalaman langsung di lapangan" yang melihat, merasakan, mengamati, dan mengalami secara langsung pernak-pernik kehidupan masyarakat di kawasan Arab.
Karenanya "analisis" para TKI/W jauh lebih akurat dan valid ketimbang para ustad/dai itu yang tidak pernah mempunyai pengalaman langsung "menggauli" masyarakat Arab. Nah, kalau antropolog lebih valid dan akurat lagi karena kerja mereka "menggauli" buku dan masyarakat sekaligus he he..

 Masyarakat, dimanapun, adalah entitas yang sangat kompleks yang perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Butuh ilmu dan metodologi khusus untuk mempelajari dan menganalisis sebuah masyarakat, dan hanya ilmuwan sosial yang tahu tentang seluk-beluk ini, bukan TKI maupun ustad/dai tadi. Para dai/ustad tidak pernah mempelajari dan menganalisis fenomena perubahan sosial-budaya, fakta-fakta politik-ekonomi kontemporer, relasi antar-suku dan klan, perseteruan geopolitik, struktur demografi, jaringan global-regional berbagai kelompok sosial, dlsb.
Akibatnya, apa yang sebenarnya terjadi disini (Arab), banyak disalahpahami disana (Indonesia). Contohnya banyak sekali: tentang agama, tata-busana, bahasa, tradisi-budaya, struktur masyarakat, relasi antar-kelompok, etnisitas dan kesukuan, konflik dan ekerasan, aktivitas sosial dlsb.

 Banyak saya perhatikan, persepsi (sebagian) masyarakat Indonesia tentang Arab tidak sama dengan persepsi atau pandangan masyarakat Arab tentang diri mereka.
Misalnya, tentang pakaian jubah/gamis bagi lelaki atau cadar bagi perempuan, disini (Arab) dianggap budaya, disana (Indonesia) dianggap agama. Tentang penggunaan Bahasa Arab, disini dianggap sebagai media komunikasi saja, tapi di Indonesia dianggap sebagai "bahasa langit" he he. Tentang konflik Sunni-Syiah atau Palestina-Israel, di kawasan Arab dianggap sebagai perseteruan geopolitik tapi di Indonesia diyakini sebagai "perang akidah" he he.

Pokoknya banyak deh contohnya yang "unyu-unyu" di Indonesia karena bersumber dari orang-orang yang "unyu-unyu" he he.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018