Habib Luthfi: "Disini Gudangnya Auliya', Tapi Mana Catatan Riwayatnya?" (2-Habis)

Erhaje88

<<Sebelumnya...
 Coba tengok, berapa sejarah kiai-kiai kita yang hilang? Contoh Mbah KH. Suhrowardi adik dari guruku Mbah Kiai Mansur Kalimati Tegal, beliau orang biasa yang luar biasa. Kita tidak boleh melupakan sejarah. Guru saya KH. Abdul Malik (Purwokerto) ialah orang yang ketika mau makan menggunakan pakaian lengkap, baju rapi, pakai kopyah dan sarung yang bagus.

Ketika saya bertanya, "kulo diajari adabe maem, Yai." Beliau menjawab, "Sega karo banyune kuwe makhluk, sega kuwe ikhtiar luru wareg, nek diizini ya wareg, mbok mangan sewakul nek ora diizini Allah ya ora wareg. Aku kaya kie merga ngormati sing maringi rizki."
Kalau orang beri'tiqod nasi itu bikin kenyang, itupun termasuk syirik. Jangan melulu menyalahkan orang datang ke kuburan dengan tuduhan syirik, karena banyak di keseharian kita kalau tidak hati-hati menyebabkan syirik. Contoh: i'tiqod nek ora mangan mati, dokter lan pil marasake, dan sebagainya.
Tanpa disadari ketika kita makan itu muncul takabur, contoh ketika makan ada sebutir nasi yang jatuh kita meremehkan dan mengatakan, "Ah, mung sa' upa be, kayong diperhatikna nemen, emange gara-gara sa' upa aku mati?" Tanpa kita sadari kita sombong gara-gara satu butir nasi yang jatuh. Kalau tidak mampu, ya ambil dan dimakan lagi kalau masih layak, bukan gara-gara sebutir nasinya, tapi kita menghormati yang membuat karena kita tidak mampu untuk membuat meskipun hanya sebutir nasi. Di dalam sebutir nasi itu banyak yang andil; sing nandur, sing ngrabuki, sing njaga hama, pas panen, berapa tangan yang sudah andil? Belum lagi kompornya, apinya, airnya, pun ikut andil untuk menjadikan sebutir nasi.
Itu baru sebutir nasi.
 Lalu bagaimana dengan bangsa ini?
Bagaimana dengan agama ini? Apa ulama cuma satu? Tidak! Banyak sekali yang telah ikut andil besar dalam menyiarkan syariat dan thariqat.


 Ulama yang masuk ke Indonesia abad 16 M, di antaranya Maulana Jamaludin Husein tinggal di Pasai. Pada era Maulana Malik Ibrohim dan Maulana Ibrohim Asmoroqondi (ayah Sunan Ampel) ada 90 pimpinan ulama yang di sebut Al-Maghrobi. Beberapa ratus ulama yang disebut 'Al-Maghrobi', lebih dari 400 yang terpencar di seluruh indonesia, yang pertama kali turun di Semarang.
Pada zaman Walisongo sudah ada yang masuk ke Tegal, seperti contoh Sayyid Ahmad Al-Maghrobi, Maulana Ibrohim Al-Maghrobi di Suro Perlawen, belum lagi Al-Maghrobi yang lain seperti Sayyid Muhamad bin Abdurrohman yang terkenal dengan nama Kanjeng Sunan Panggung. Murid beliau yang terkenal di antaranya Ki Ageng Sebayu yang punya anak perempuan dan dinikah oleh Ki Ageng Hanggawana dan mendapat menantu Sayid Maulana Abdul Ghofar atau Adipati Romo yang terkenal ada di Kalisoka Tegal, dan beberapa keturunan Hanggawana yang menjadi ulama dan bupati di Tegal.

Tegal ini banyak sejarahnya, tapi mana? Mana catatan-catatan sejarahnya? Takut takabur kalau diketahui nasab kalian? Coba siapa tokoh di Danawarih Tegal selain Habib Zein Baraqbah? Sejarah Kiai Abdul Mu'ti Babakan? Kiai Hisyam? Kiai Abdul Malik? Kiai Umar Yomani? Kiai Chudori? Kiai Masyhuri? Kiai Siroj Lebaksiu? Kemana sejarahnya beliau? Kiai Romdlon? Kiai Abdullah Lemahduwur? Kiai Umar Kebasen? Kiai Ubaidah, Kiai Said, Kiai Mustofa, Kiai Maarif, Giren? Kiai Barmawi, Kiai Abu Su'ud, Kiai Muhamad Abdul Bari, Kiai Abdulloh Karangayar? Kiai Muhibin Randugunting? Kiai Hasan, Kiai Baydowi, atau Kiai Abdullah Keputihan yang merupakan awal mula Naqsyabandiah di Tegal? Di mana sejarahnya? Catat wahai kaum muda, catat!

 Guru saya KH. Muhamad Ilyas Sokaraja saat beliau pulang dari Mekah di perintahkan gurunya untuk mampir dulu ke saudara seguru yaitu KH. Abdullah Keputihan Tegal. Siapa beliau? Beliau adalah mursyid naqsyabandi dari Sayyid Sulaiman Zuhdi dari Sayyid Sulaiman Al-Ghorimi dari Sayyid Abdulloh Afandi dari Maulana Kholil Mujadid dari Sayyidi Abdulloh Dahlawi dari Sayyidi Syamsuddin Habibullah Mudohir dari Sayyidi Syekh Muhamad Nuruddin dari Imam Saifudin Alfaruqi dari Syekh Muhamad Ma'sum Alfaruqi dan seterusnya.

Para pemuda harus mencatat sejarah para pendahulunya! Kalau tidak dicatat akan hilang ditelan zaman. Kalian jangan sembarangan, di Tegal ini gudangnya para ulama, para aulia, gudangnya habaib yang luar biasa. Namun tuntutan batiniah kita mengatakan; kemana para beliau? Jangan kalah sama yang lainnya, seperti kaum Buddha ketika ditanya sejarahnya maka ia akan menunjukan tempat semedi Buddha, bisa menunjukan bekas-bekas Trimurti, bekas-bekas candinya dulu, sampai Candi Ainta yang berumur 3000 tahun, dan bantalnya yang masih ada tersimpan di Himalaya. Hal itu, paling tidak, menambah keyakinan pengikutnya.

Peninggalan Nabi Muhamad dihancurkan dengan alasan yang dibuat-buat berupa syirik. Bagaimana generasi Islam ke depan kalau tidak ada bekas sejarahnya Nabi Muhammad? Maka Nabi Muhammad akan dianggap fiktif/dongeng belaka.
Saya malu melihat bendera Merah Putih berkibar, di mana kita ketika masa perjuangan kemerdekaan? Di mana kita pada masa kemerdekaan? Kita bangsa Indonesia dininabobokan dengan ribut-ribut, dipecah belah agar tidak bisa bersatu dan kompak, antara TNI-Masyarakat, pemerintah-masyarakat, Polri-masyarakat, agar terus meributkan perkara yang sepele. Padahal bersatunya seluruh elemen bangsa akan lebih dahsyat dari bom nuklir dan kekuatan apapun.
Tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita tergolong orang yang mengecewakan Nabi, mengecewakan para pahlawan?
Tanyakan pada diri kita masing-masing.


Inti dari peringatan maulid nabi ini adalah untuk mengkatrol dan membangkitkan semangat membangun bangsa ini. Buktikan! Jangan cuma di mulut saja.

*Artikel ini merupakan Ikhtisar Mauidzoh Hasanah Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan pada acara Maulid Nabi Muhammad di Majlis Sholawat Mahabbatul Mustofa PP. Al-Abror Yamansari Lebaksiu Tegal, 22 Desember 2015. ( Ahmad Hasby Faqih Elyamani )

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com:

BUKAYANGBAIK May 2018