Habib Luthfi: "Disini Gudangnya Auliya', Tapi Mana Catatan Riwayatnya?" (1)

Erhaje88

Allah swt menghormati kita dengan memanggil "Ya ayyuhalladziina aamanuu, (wahai orang-orang yang beriman)," itu karena sebab Nabi Muhammad. Sing gawe urip ngormati karo gaweane, itu hal yang luar biasa. Sebab dilahirkannya Nabi Muhammad, kita mengetahui mana yang haq dan batil, mana yang halal dan haram, mana makruh mana mubah dan mubadzir, juga mengetahui akhlak yang bagus.
Mustahil kita mengerti itu semua tanpa mengikuti nabi, intinya maulid nabi ini bukan sedang berlebih-lebihan.
Habib Luthfi bersama alm. Gus Dur

Banyak sekali keterangan di Al-Quran yang menerangkan kelebihan-kelebihan nabi, salah satu contohnya: qul in kuntum tuhibbunallaha faitabi'uni yuhbibkumullah; (katakanlah, kalau engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku). Siapa 'aku' di sini? Dijawab; yaasiin wal quraanil hakiim innaka laminal mursaliina 'alaa shirotim mustaqiim. Dijawab: Ar-rohmaan, 'allamal Quran, kholaqol insaan, 'allamahul bayan. Maksud dari 'fattabi'uni' lagi: laqod jaa-akum Rosulun min anfusikum 'azizun alaihi ma 'anittum harisun 'alaikum bil mu'minina roufurr rohim. Atau ayat: qul innama ana basyarun mitslukum, jangan berhenti sampai sini, teruskan; yuukhaa ilayya.

Untuk perbandingan,wahyu itu tiada pembandingnya. Seperti halnya wahyu, basyarun pun tidak sama seperti manusia pada umumya. Nabi tidak tinggi, tidak pendek, tetapi luar biasa, ketika bersama orang Hijaz yang tingginya 190-210 cm beliau lebih tinggi 'sekilan'. Ketika bersama orang Yaman yang tingginya 160-180 lebih tinggi 'sekilan'. Hidung nabi mancung lurus seperti alif). Nabi tidak mempunyai sifat lupa. Nabi bisa menikmati hakikatnya lapar, dan lebih jauh lagi memikirkan bagaimana kalau umatnya lapar. Nabi itu mukhtarun wa ma'sumun wa mahfudzun wa nabiyun wa rosulun, bukan ukuran kita untuk membandingkan dengan beliau.
Ibnu 'Abbas menafsirkan ayat 'min anfusikum' dengan 'min anfasikum', manusia tidak sembarang manusia, bukan manusia biasa tapi manusia luar biasa. Lafad 'azizun pada ayat 'laqod jaakum..' ialah orang yang sempurna dalam maqomat ubudiyahnya, sempurna pula kemanusiaanya.

Allah memberikan julukan 'azizun, rouf; rohim kepada Nabi Muhammad, apakah itu berlebihan? Tidak. Siapa yang didapuk oleh Allah pada ayat 'fattabiuni' (ikutilah aku)? Ialah orang yang mempunyai pangkat tinggi seperti pada ayat 'subhanalladzi asro bi 'abdihi lailann'. Lafadz 'abdihi' di sini bukan sekedar hamba, tapi hamba yang mengerti dirinya hamba dan mengenal siapa Rabb-nya.
Saya tidak sependapat dengan keterangan bahwa Nabi dihilangkan kotorannya ketika mau Isro Mi'roj. Kalau Nabi punya kotoran, berapa kotoran kita? Namun ketika Nabi dibedah dadanya itu karena ditambah keluasan hatinya yang luar biasa, sebab akan menerima 'ilmullah, sirrullah fi kitabihil adzim, dipersiapkan Allah untuk menerima rahmat-Nya dan barokah-Nya. Allah tidak bertempat, tapi jaiz bagi Allah menempatkan Nabi dimanapun. Namun ketika nabi melihat-Nya, Allah tetap mukholafatul lil hawadisi. Nabi menghadap Allah Ta'ala dengan adab dan akhlak. Nabi berkata: attahiyyatul mubarokatuss solawatut thoyyibatu lillah (Ya Allah, segala penghormatan, keberkahan, sholawat dan kebaikan hanya milik-Mu ya Allah). Dijawab oleh Allah; assalamu 'alayka ayyuhannabiyyu warohmatullahi wabarokatuh (Wahai Nabi, salam sejahtera, semoga tercurah kepadamu, Rahmat dan Berkah Allah tercurah kepadamu).


Di sini nabi diberi oleh Allah rahmat dan berkah-Nya, lantas sujud kepada Allah dan memikirkan umatnya, sehingga beliau ingin membagi rahmat dan berkah kepada umatnya. Nabi menjawab; assalamu 'alayna (kesejahteraan atas kami -pada orang awam umatnya nabi) wa 'ala 'ibadillahis solihin (dan kepada hamba-hamba Allah yang soleh).
Siapa yang dimaksud sholeh? Innama yakhsyalllaha min `ibadihil 'ulama. Alaa inna auliaa-allahi la khoufun 'alaihim walaa hum yakhzanuun, yaitu pewaris para nabi. Adab dan akhlak Nabi, ketika menerima perintah sholat yang awalnya 50, beliau tahu bahwa umatnya tidak mampu, namun dengan ketinggian akhlak dan adabnya, Nabi menerima titah tersebut.

Ketika Nabi bertemu Nabi Musa dan bolak-balik kepada Allah, disini ada rahasia. Setiap kali Nabi bertemu Allah, akan bertambah asror, nur, dan rahasia dari Allah, sehingga yang pertama kali kecipratan nur, asror, dan anugrah Allah melalui Nabi Muhammad ialah Nabi Musa.

Di kitab Jami' Karomatul Aulia, juz awal bab Ta'riful Wali halaman 66/67, keterangan inna aulia-allahi la khoufun 'alaihim walaa hum yahzanun, Allah membuat kepala ulama dan para wali yang disebut dalam tasawuf sebagai al-Quthbu / wali kutub, yang mana setiap zaman ada wali quthbil aqthab (kutubnya para wali kutub). Ada yang ghouts ada yang tidak. Ghouts ialah wali yang dijadikan rujukan umat dalam hal apapun, dan pecahan ghouts ini banyak.

Selanjutnya di bawah quthbil aqthab dan quthbil ghouts diantarnya ialah pembesar ulama thariqah. Imam Syafi'i termasuk qutbil autad, Sayidina Syekh 'Abdul Qodir al-Jailani qutbil ghouts, juga Syekh Ar-Rifa'i, dam Syekh Ibrohim Ad-Dasuki. Termasuk qutbil ghouts yang mashur di tanah Jawa ada 3, yakni Maulana Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Sultonul Ulama wal Aulia Syekh Ibrohim (Sunan Bonang), dan 'Abdul Fuqoro wal Masakin Maulana Qosim (Sunan Drajat). Estafet beliau di antaranya ialah Habib Husain bin Abu Bakar al-'Aydarus Luar Batang, Mbah KH. Minhajul 'Abidin Solo, Mbah KH. Muhammad Hanafi Njaha-Cirebon, Mbah Ahmad Anwarudin Krian-Cirebon (Syattariah).

Rahasia Nabi isro' 'minal masjidil harom' ialah; kenapa dari Masjidil Harom? Karena di situ banyak peninggalan sejarah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Siti Hajar. Di situ juga ada tempat kelahiran Nabi. >>Selanjutnya...

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: