Benarkah Zakir Naik Ulama Hebat Kelas Internasional?

Erhaje88

Oleh: Suhindro Wibisono

Ketika nonton video yang beredar, tentang tanya-jawab dengan Zakir Naik yang memang beberapa waktu sebelum kedatangannya sudah dihebohkan, sepertinya memang dia punya banyak pengagum di negeri ini. SALUT.



Ketika Zakir Naik menjawab pertanyaan dari seorang wanita yang ada kaitannya dengan Pilkada DKI utamanya soal calon Gubernur Ahok, ulama asal India ini menyatakan kurang lebihnya seperti ini: "Lebih baik yang sholat walau maling dari pada yang tidak sholat (non muslim) walau jujur." NGENES


Saya terus terang saja langsung mempertanyakan dalam benak "separah itukah moral ajaran mereka?" Maaf kalau sepertinya langsung justifikasi kewadahnya, dan saya koreksi saja kalau begitu, kehebatan apa yang dikagumi dari seorang tokoh yang diblacklist di banyak negara itu?

(Baca opini terkait: Tentang Zakir Naik)

Saya kok malah curiga dia ikut menjelekkan aura agama mayoritas di negeri ini. Bagaimana menurut sampeyan, teman saya yang muslim? Jangan emosi ya, bukankah kita hanya "diskusi" untuk mencari kewajaran sesuai rasa rasionalitas demi kebaikan bersama? Bukankah makna kebaikan atau kebenaran itu adalah berdasar asas universal? Karena kebenaran hakiki itu seharusnya juga bisa dirasakan benar oleh universal bukan?

Kenapa saya berpendapat mempertanyakan soal moral? Karena menurut rasa saya, jauh "lebih" berdosa orang yang paham masalah dan melanggarnya dari pada yang tidak paham tapi melanggar. Contohnya, ketika aparat penegak hukum melakukan pelanggaran hukum yang seharusnya dipahami karena mereka yang bertugas menegakkan hukum, jadi dianggap jauh lebih paham dari pada awam, maka penegak hukum yang melanggar hukum tersebut akan dikenakan sanksi hukum yang lebih berat dari pada awam yang tidak paham penegakkan hukum.

Itu saya ibaratkan, mereka yang rajin sholat tentu lebih paham apa-apa larangan Tuhan dari pada yang tidak pernah sholat atau bahkan misal tidak beragama sekalipun. Bukankah sungguh sangat mengkhianati agamanya ketika rajin sholatnya tapi kenyataan justru merangkap sebagai maling, koruptor atau perampok juga? Bukankah seharusnya itu adalah contoh kemunafikan yang sangat nyata? Andai dianggap agamanya sebagai kedok untuk menutupi kebobrokannya, apakah salah? Moral seperti apa yang ingin diajarkan oleh Zakir Naik di negeri ini? Saya kok melihat para ulama NU jauh lebih bijak dan mencerahkan dari pada dia, maaf itu menurut pemikiran saya secara pribadi.

Lalu pernyataan berikutnya yang sangat populer dibicarakan banyak orang sesudahnya adalah kurang lebihnya gini : "Kemunafikan paling nyata adalah menyumbang atau membangun masjid tapi tidak melakukan sholat di rumah ibadah yang dibangun atau disumbangnya itu"

Itu sungguh benar-benar pernyataan paling blunder dan menggiring ummat untuk tidak boleh mengenal pemahaman soal toleransi, dan menurut saya itu sungguh sangat membahayakan untuk negara ini, negara yang juga berfalsafah atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Masih ingat ketika kita sering melihat permintaan sumbangan untuk
pembangunan rumah ibadah bahkan sampai harus memperlambat arus lalu lintas? Apakah para penyumbangnya ditanya dulu beragama apa? Atau adakah tulisannya "yang tidak seagama dilarang nyumbang" misalnya? Apa sampean pernah dengar hampir semua (atau 100%?) pengembang/pembangun perumahan real estate "menyumbang" pembangunan masjid di kompleks perumahan yang sedang dibangun? Atau diharuskan menyumbang? Kenapa selama ini tidak pernah dipertanyakan dan diusik bahwa itu adalah perbuatan munafik seperti yang dituduhkan Zakir Naik? Kenapa tidak sekalian dinyatakan saja bahwa rumah ibadah yang didalam pembangunannya terdapat unsur dana dari yang bukan seagama dinyatakan sebagai HARAM hukumnya untuk dilakukan sholat didalamnya? (Beberapa waktu lalu pernah ada wacana begitu toh?)

Yakin sia datang ke negeri ini untuk mengajarkan kebenaran agama mayoritas bukan malah mencederainya? Moral kebaikan semacam apa yang sebetulnya ingin disebarkan?

Gus Mus, Prof. Quraish Shihab, Almarhum Gus Dur (doeloe), Almarhum KH. Hasyim Muzadi (dulu), Gus Nuril, KH. Said Aqil Sirodj, Buya Syafii Ma'arif menurut pikiean saya jauh lebih wise dari Zakir Naik dalam tausiah-tausiahnya.
 Maaf kalau ada yang tersinggung atas artikel penilaian berdasarkan rasa saya ini.
( Selasa, 04 April 2017)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: