Manuver Cerdas NU Hadapi Politisi Oportunis

Erhaje88




Oleh: Acin Muhdor


Lagi-lagi NU bermanuver cerdas: Memang kalau bukan karena NU, Islam kita hanya tinggal sisa-sisa catatan sakit hati warisan kerajaan Bani Umayyah, Abbasiyah dan Saudiyah. Islam yang jorok, Islam yang kasar, Islam yang bodoh, Islam yang keras kepala, Islam yang mengkafirkan
perbedaan serta Islam yang membid'ahkan ritual-ritual mulia seperti; Maulid Nabi, tahlil dan ziarah kubur.

  Sudah dengar kabar kan, sobat? Anies dan Sandi didampingi "kuasa politiknya" (Hari Tanoe) mendatangi markas NU di Keramat. Mereka menemui ketua umum PBNU, KH Said Agil Sirodj. Tujuannya apa ya? Silaturahmi kah? Anies dan Sandi (Apalagi Hari Tanoe) tidak pernah dikabarkan mendatangi kantor pusat PBNU sebelumnya. Dengan akal sehat kita bisa simpulkan bahwa mereka minta dukungan.
Said Agil menjawab secara diplomatis, karena memang menghadapi politisi oportunis harus seperti itu. Mengapa saya katakan mereka "oportunis"? mereka mendatangi PBNU hanya karena butuh voter dari warga NU yang berada di bawah naungan Kyai Said.

Baca: "Tamparan Keras" KH Said Aqil Sirad Pada Anies-Sandi Saat Kunjungi PBNU

  Artikel ini juga sengaja saya tulis sebagai narasi yang bersifat kontradiktif dari sekian banyak artikel gadungan yang memelintir berita pertemuan Anies-Sandi dengan Said Agil sebagai data pendukung untuk memuluskan kampanye mereka.

Sebagian dari kelompok sumbu pendek yang saat ini saya anggap "pemuja orba" tidak benar-benar mampu mencerna sebuah redaksi dalam dialog verbal. Ketika Kyai Said Agil menasehati paslon nomor tiga dengan kalimat   "Allah jangan diajak kampanye", sebetulnya sudah clear bahwa Kyai Said jijik dengan aktifisme politik DKI yang dengan tanpa hormat menjadikan agama sebagai aparatus politik.

  Hal itu juga mengejawantahkan, bahwa banyak pola-pola kampanye paslon nomor tiga (baik secara langsung maupun tidak) yang masih melibatkan Tuhan sebagai branding icon. Bahkan sebagian dari pendukung paslon nomor tiga "memaksa Tuhan" untuk mengikuti pilihan politiknya.
Sampai akhir, Kyai Said Agil Siradj tak secara ekpslisit menyebutkan dukungannya pada siapa. Tapi dengan segala advicenya untuk gerombolan "Oke-Oce" ini, jelas dukungan Kyai Said bukan untuk mereka.

Ada kaitannya dengan berita yang sudah basi ini:  Dedi Mulyadi (bupati Purwakarta) didukung KH Ma'ruf Amin.

 Tandanya apa, sobat? Pilihan politik tak serta merta harus dipengaruhi oleh opini dominan seorang kyai atau ustad atau ulama atau habib atau imam besar sekalipun. Dedi Mulyadi dikafirkan oleh Habib Rizieq dan Rais Am PBNU mendukung Dedi Mulyadi maju ke Pilkada Jabar di 2018 mendatang.
Nyawa NU belum sepenuhnya tergerus oleh ombak radikalis ekstremisme yang akhir-akhir ini menyeruak. Dedi Mulyadi yang dilekatkan dengan frasa  musyrik oleh FPI dan telah diklaim, bahkan oleh "google" sebagai musuh FPI (silahkan sobat tulis "dedi mulyadi" di mesin pencarian lalu liat rekomendasi key word yang diarahkan kepada nama itu) Saya ulangi, Dedi diklaim sebagai musuh FPI yang mana mereka telah menetapkan Imam mereka sebagai muara keberimanan seorang muslim, tapi Dedi malah didukung oleh Kyai Makruf Amin, selaku Rais Am PBNU.

  Ini contoh sederhana bahwa NU sejati tak melihat fenomena politik sebagai dalil teologi yang bisa dijadikan argumen untuk menentukan nasib seseorang di akherat.
- SALAM TOLERANSI -

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: