Kisah Perjuangan Tumenggung Soemodiningrat (Habib Hasan bin Thoha) Melawan Penjajah

Erhaje88




Tumenggung Raden Soemodiningrat sesungguhnya bernama asal Habib Hasan bin Thoha Bin yahya. Beliau seorang yang sangat alim lagi makrifat. Secara nasab beliau masih keturunan Al quthb Habib Syeh bin Ahmad bin yahya, seorang wali quthb yang mastur dan terkenal ahli menghentikan segala
macam bentuk pertikaian dan perpecahan.
Beliau juga merupakan datuk Maulana Habib luthfi bin yahya.

 Berikut ini adalah silsilah Maulana Habib luthfi yang bersambung sampai kepada Habib hasan, Maulana Habib luthfi bin ali bin hasyim bin Umar bin thoha bin hasan.
Beliau adalah putra Habib Thoha Bin Muhammad qodli bin Thoha bin Muhammad bin Syeh bin Ahmad bin yahya, seorang ulama yang allamah dan sekaligus seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Portugis.
Dulu ketika beliau baru pulang dari tanah suci Mekkah dan singgah di Malaka, saat itu malaka sedang melakan pertempuran melawan portugis. Oleh Sultan Malaka, Habib Thoha di minta untuk membantu mengusir penjajah Portugis. Beliau langsung bergegas menuju tepi pantai untuk memberi peringatan kepada kapten kapal perang Portugis agar tidak mendaratkan kapal perangnya ke pelabuhan, namun mereka mengabaikan peringatannya. Akhirnya dengan karomahnya Habib Thoha, air laut yang sebelum nya tenang tiba tiba berubah menjadi badai. Ombak besar setinggi pohon kelapa menggulung dan menghantam kapal perang Portugis dan membuatnya hancur berkeping keping. Tapi anehnya tidak ada satu awak dan penumpang kapal yang tewas, semuanya selamat. Mereka hanya pingsan dan terdampar di tepi pantai.


  Salah satu kebiasaan Habib Thoha adalah mengenakn cadar. Konon wajah beliau kerapkali memancarkan cahaya yang sangat terang dan sangking terangnya pancaran cahaya wajah beliau tidak ada orang yang sanggup memandang wajahnya.
Habib thoha wafat di penang Malaysia dan di makamkan di sana.

  Habib Hasan juga memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga keraton Yogyakarta, karena beliau adalah menantu Sultan Hamengku buwono II atau ipar dari Sultan Hamengku Buwono III ( ayahnya Pangeran Diponegoro ). Dengan demikian jika di tinjau dari hubungan kekerabatan, Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan adalah paman Pangeran Diponegoro.

Perjuangan beliau melawan penjajah Belanda bermula di Banten. Saat itu Banten di pimpin oleh sultan Rofiuddin.
Habib Hasan di samping sebagai mufti kesultanan Banten beliau juga seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda. Atas kegigihan dan keberanianya melawan penjajah beliau di juluki sebagai Singa Barong.

  Setelah berjuang di Banten beliau melanjutkan dakwah dan perjuanganya ke Pekalongan. Di daerah kota batik itu beliau membangun pesantren di desa Ng ledok.
Beliau dan para santrinya terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Setelah itu beliau melanjutkan perjalananya ke Semarang.

  Kisah keberanian dan kegigihan Habib Hasan melawan penjajah ternyata terdengar oleh sultan Hamengku buwono II  dan membuat sang sultan takjub atas kegigihan dan keberanianya melawan penjajah. Akhirnya habib Hasan di angkat menjadi menantu sultan Hamengku buwono II
Disamping sebagai menantunya Habib Hasan juga di angkat sebagai Senopati Agung Mataram.
Selaku panglima perang, Habib Hasan memimpin pasukan yang jumlahnya mencapai 15 ribu prajurit yang terbagi menjadi 3 bagian. Lima ribu prajurit untuk pasukan darat dan lima ribunya lgi untuk pasukan laut. Sisanya untuk pasukan cadangan.

  Habib Hasan bersama sahabatnya yaitu Raden Ronggo Prawirodirjo ( ayah Raden Sentot Prawirodirjo ) saling bahu membahu mempertahankan wilayah Yogyakarta dari agresi militer Belanda.
Berkat kecerdikan beliau dalam mengatur strategi perang, Belanda seringkali mengalami kegagalan untuk menguasai wilayah Yogyakarta.
Karena merasa kesal dengan Habib Hasan yang selalu menghalangi Belanda untuk menguasai wilayah Yogyakarta, akhirnya Belanda menggunakan siasat licik. Mereka menyuruh orang orang bayaran untuk menyamar sebagai Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan. Orang orang bayaran ini di tugaskan untuk gemar mabuk mabukan dan main judi. Tujuanya adalah untuk menghancurkan reputasi dan nama baiknya dan supaya rakyat Mataram membenci sosok raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan. Namun berkat kesigapan beliau dalam mengatasi masalah, semua siasat licik Belanda untuk menghancurkan nama baiknya berhasil di gagalkan.

  Semenjak Habib hasan menetap di Mataram beliau mendirikan perguruan pencak silat. Pergurua ini diberi nama perguruan Pencak Silat Capit Ular. Sebelum wafat, Habib Hasan menyerahkan perguruan pencak silatnya kepada putranya, Habib Thoha Ciledug, Cirebon ( penyusun Rotibul Kubro ).
Di bawah kepemimpinan Habib Thoha perguruan pencak silatnya di ganti namanya menjadi Sipedi.


Habib Hasan wafat pada tahun 1818 M dan dimakamkan di depan pengimaman masjid Al Hidayah Duku Lamper Semarang.


*Kisah ini di paparkan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada pengajian Ramadhan Tahun 1434 H/2013 M

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: