Dulu Mengawal Pengantin, Sekarang Lempari Batu Tolak Pembangunan Gereja

Erhaje88


Oleh: Gusti Yusuf
Ormas Islam ngotot ingin ijin Gereja Santa Clara dicabut, padahal segala persyaratannya sudah dipenuhi. Tapi seperti biasa mereka keras kepala dan mencap Gereja Santa Clara sebagai gereja liar.
Beruntung Walikota Bekasi memiliki komitmen
yang tinggi untuk memastikan seluruh warga kota Bekasi mendapatkan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Lalu mengapa mereka menolak? Hanya hal kecil ternyata kenapa mereka menolak pembangunan gereja tersebut.

“‎Pertama, Bekasi Utara dihuni mayoritas umat Muslim, banyak pondok pesantren dan belum pantas berdirinya gereja. Jangan ada pembangunan gereja di lingkungan yang mayoritas dihuni umat Muslim. Kedua, ada pertemuan win-win solution yang menyatakan bahwa pembangunan gereja dilakukan di tempat lain, jangan di lokasi ini (Bekasi Utara). Ini sama saja menyakiti umat Islam.
Kita tidak melarang adanya pembangunan gereja tapi mohon pembangunan gereja jangan di tempat‎ yang mayoritas dihuni umat Muslim,”

Ada beberapa alasan lainnya, tapi sisanya hanya desas-desus dan mengingat mereka mudah percaya isu-isu berbau agama, maka saya kira tidak perlu dibahas. Tapi dari pernyataan diatas, jelas desakan mereka hanya berdasarkan alasan “kami mayoritas maka kami boleh se-enaknya” sambil membawa-bawa nama umat Islam. Ini justru memalukan bagi semua umat Islam di Indonesia. Jumlah mereka sedikit tapi karena terorganisir dan cerewet jadinya terasa banyak. Buktinya yang mendemo hanya anggota ormas saja dan bisa jadi mereka bukan penduduk setempat.

Sebaliknya Ahok justru membangun banyak mesjid hingga membuat makam Mbah Priok menjadi cagar budaya.

Peristiwa penolakan dengan kekerasan seperti itu justru mencoreng nama Islam. Ngotot dan selalu merasa benar, itulah citra buruk yang berhasil mereka tempelkan pada umat Islam. Padahal tidak semua umat Islam setuju dengan aksi mereka. Malah saya yakin jauh lebih banyak yang mencaci aksi mereka daripada yang setuju.

Saya jadi teringat sebuah peristiwa dalam salah satu aksi damai penduduk bumi datar ini. Mereka begitu bangga dengan aksi tersebut sehingga membagikannya dengan ghirah tinggi diberbagai media sosial dan media berita Islam kesayangan mereka. Salah satunya Jonru.


Pencitraan, itulah yang dulu sempat saya katakan mengenai peristiwa ini. Mereka melihat rombongan pengantin lalu dengan cekatan memandang kejadian tersebut sebagai kesempatan mencitrakan diri menjadi Islam yang toleran. Sungguh memuakkan karena kita semua tahu bagaimana sifat asli mereka sebenarnya. Dan benar saja, salah satu tanda pencitraan adalah inkonsistensi dalam berperilaku, sekarang mereka menyerang Gereja Santa Clara. Dulu sok nganterin penganten sekarang lempar batu.( Seword )


COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: