Antara Ngaji Introspektif dan Ngaji Provokatif

Erhaje88




Oleh: Fihril Kamal


Ada perbedaan signifikan, antara pengajian ta'lim betulan yang memang disampaikan oleh Kiai, dan "pengajian" yang cuma sekedar untuk menghimpun massa dan kekuatan politik.

Yang satu berfokus pada tambahnya ilmu dan kemanfaatan,
maka materi yang disampaikan ya bersifat introspekstif untuk perbaikan umat kedepan, sedangkan yang lainnya fokusnya untuk menggiring massa, maka ceramah yang disampaikan bernuansa seram, menakut-nakuti, bahkan cenderung membuat orang panik supaya mudah dikendalikan.

Saya simak banyak berteberan rekaman-rekaman ceramah yang seram, menakutkan, dan mengerikan di mana-mana, di televisi, di media sosial, dan menurut pengalaman sahabat-sahabat saya, di mimbar-mimbar di kota-kota. "Hantu" dan "Monster" yang diceritakan bermacam-macam bentuknya, ada yang berbentuk sembilan naga penyembur api, sampai raksasa merah buruk rupa bersenjatakan gada dan sambit.
  Umat hanya ditakut-takuti, tapi kurang diberi solusi, umat hanya diajak membenci dan mencurigai, paling pol solusi yang ditawarkan cuma boikot, boikot dan boikot.
Tapi syukur Alhamdulillah, ketika saya menyalakan TV lokal Jawa Timur yang berslogan "Santun Menyejukkan" saya mendapati pengajian seorang Kiai sepuh kharismatik yang terkenal "terduga wali".
  Di pengajiannya itu saya dapati warna yang sama sekali lain, disana saya tidak mendapati ujaran kebencian, kalimat yang bernuansa menakut-nakuti, ataupun sentimen rasis. Yang saya dengar adalah Ilmu dan motivasi yang malah terkadang "menampar" diri kita sendiri.
 Beliau kala itu menjelaskan makna-makna tersirat yang terkandung dalam Al-Qur'an Surat Al-Quraish, yang berisi tentang perihal ekonomi. Bagaiaman dahulu suku Quraish memperoleh nikmat karunia lewat berdagang, lalu beliau melanjutkan penjelasan berdasarkan hadis, bahwa 90% rezeki yang dikaruniakan Allah itu dilewatkan jalur perdagangan, dan 10% nya dilewatkan jalur yang lainnya, termasuk pertanian dan lain-lain.
 Tapi sekarang, papar beliau, umat Islam ini banyak yang kurang cerdas, pintu rejeki yang 90% itu ditinggal, yang 10% malah dijadikan rebutan, banyak diantara kita ini yang sekolah tinggi-tinggi hanya untuk jadi Pegawai Negeri, sampai kadang masuk menjadi Pegawai Negeri sampai lewat jalur sogok-menyogok.. Hingga akhirnya ketika menjabat harus korupsi agar bisa balik modal.
 Sedangkan pintu rejeki yang 90% itu justru lebih banyak digeluti oleh etnis tionghoa.

Disinilah bedanya, Kiai itu tidak mengajak umat membenci etnis tionghoa, tidak pula menakut-nakuti, tapi justru kita disuruh meniru dan mengambil pelajaran dari kegigihan dan keuletan usaha perdagangan yang mereka lakukan. Dan Kiai itu menyuruh santri-santrinya untuk berpikir cerdas dalam menangkap peluang bisnis.

Sepertinya ceramah agama yang introspektif seperti inilah yang kita butuhkan, supaya kita tidak melulu menjadi penakut dan pembenci, benci dan takut karena kelemahan diri sendiri.
 Tapi justru kita harus bisa kuat dan dapat bersaing secara sehat, sehingga tidak perlu lagi itu ada acara boikot-boikotan.

Sekian, Wallahu Al'lam.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: