Yang Kearab-araban, Yang Keeropa-eropaan (5)



Oleh: Iqbal Aji Daryono*


Apa yang terjadi dengan gaya berpakaian ala Eropa dan produk-produk budaya lainnya pun sebenarnya menjalani alur yang sama dengan proses mengglobalnya bahasa Inggris. Dalam konteks sejarah Indonesia, kita harus merunutnya terutama sejak Politik Etis diterapkan pemerintah Hindia-Belanda
pada akhir abad ke-19. Berawal dari momentum itu, di belakang hari kita mewarisi sistem sekolah, lembaga peradilan, pencatatan sipil, administrasi negara, penanggalan, hingga kebiasaan sehari-hari seperti makan dengan alat-alat makan, termasuk kebiasaan dalam cara berpakaian. Semua itu adalah warisan kolonial Belanda, yang berjalan seiring dengan terus menguatnya kuasa Eropa di segala lini kehidupan kita.

Jadi, Anda masih berpikir untuk membentengi Indonesia dari budaya asing Arab dan menjadi penegak kemurnian Nusantara, sementara kita sendiri dengan bahagia merayakan warisan budaya Eropa? Aduh, tolong pikirkan sekali lagi.

"Lho, tapi orang-orang berjubah itu sukanya merasa paling suci, sukanya mengkafir-kafirkan orang!"

Sebentar, sebentar, tahan emosi dulu. Begini Mas, Mbak. Kalau memang ada orang menyakiti Anda dengan kata-kata mereka, itu yang salah mulutnya, apa bajunya?

Kita tidak suka jika manusia dinilai berdasarkan warna kulitnya. Kita tidak suka jika manusia dinilai berdasarkan etnisnya. Kita juga tidak suka jika manusia dinilai berdasarkan kain yang melekat di tubuhnya. Ketika kita memprotes ucapan orang yang menyatakan rok mini sebagai ciri amoral, semestinya kita juga tidak melihat jubah sebagai simbol arogansi, bukan?

Yang namanya arogansi bisa dilakukan siapa saja. Yang pakai jubah, yang pakai jas, yang pakai tank top, yang pakai bikini, bahkan yang nggak pakai baju sekalipun, semua bisa arogan. Dan arogansi manusia bukan cuma muncul dalam bentuk sikap sok paling suci, melainkan juga sok paling modern, sok paling pinter, sok paling rasional dan segala jenis sok sok yang lain.

Akhirulkalam, tidak perlu tegang-tegang memikirkan cara kita dan orang-orang di sekitar kita dalam berekspresi dengan produk-produk budaya. Pakai saja pakaian yang kita suka, yang pantas, yang keren, yang sesuai dengan selera atau keyakinan kita. Pakai juga kata-kata asing yang kita suka, sepanjang itu tidak membuat kita jadi alien karena gagal menjalankan komunikasi efektif yang semestinya.

Sembari itu, ingat selalu pesan para MC panggung dangdut dan campursari: "Sing penting ojo jotos-jotosaaan!"

<< Sebelumnya


 *) Iqbal Aji Daryono adalah praktisi media sosial, penulis buku "Out of The Truck Box". Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi.

**Artikel diambil dari kolom detik.com

0 Response to "Yang Kearab-araban, Yang Keeropa-eropaan (5)"

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel