Yang Kearab-araban, Yang Keeropa-eropaan (1)

Erhaje88


Oleh: Iqbal Aji Daryono


"Haji Iqbal, hurry up! Why are you late, my brother?"

Sambil menyetir forklift untuk mengangkati palet-palet berisi barang-barang kiriman, lelaki berkulit legam itu menyapa saya. Ia buruh di gudang perusahaan jasa pengiriman tempat kami bekerja.

Namanya Abdy, Abdurrahman Masoud lengkapnya, asalnya dari Jibouti, Afrika.
Awalnya Abdy tak tahu saya muslim. Begitu tahu, dia langsung tampak lebih ramah, dan mengubah caranya memanggil saya. Soal "Haji Iqbal", tentu ia cuma bercanda. Tapi Abdy tak lagi memanggil saya dengan "mate" sebagaimana lazimnya cara Australia, bukan juga dengan "Iqy" sesuai panggilan buat saya dari teman-teman lain di gudang. Dia sekarang memanggil saya dengan "my brother".

Sebelum kenal Abdy, saya pernah berjumpa dengan banyak muslim dari berbagai negara. Saya ingat-ingat, ternyata kebanyakan mereka saling menyapa dengan panggilan "brother". Begitu pula para khatib di Universitas Western Australia tempat saya rutin jumatan sekarang, dalam khotbah mereka pun selalu muncul sebutan bagi jamaah: "Brother and sister in Islam..."

Pada waktu lain, dalam sebuah penerbangan, saya duduk bersebelahan dengan seorang lelaki Arab Saudi. Ketika kami bicara bahasa Inggris, dan dia tahu bahwa saya muslim, segera kalimat-kalimatnya berlimpah dengan ucapan "masya Allah". Anehnya, dia menyebut saya dengan "you" saja. Misalnya saat bertanya, "So which part of Indonesia do you live?"

Aneh, kan? Iya, lah. Ini memang aneh. Kenapa dia tidak memakai "antum" untuk kata ganti orang kedua? Kenapa cuma "you"? Bukannya kami sesama muslim? Juga Abdy dan teman-teman muslim yang lain, kenapa mereka memanggil saya dengan "brother" dan bukan "akhi"? Padahal di Indonesia, oleh sesama muslim Indonesia, berkali-kali saya malah dipanggil dengan antum dan akhi. "Antum sekarang tinggal di mana, Akh Iqbal? Keluarga sehat-sehat?"

Selanjutnya>>

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: