Si Buni Dari Goa Hantu

Erhaje88



Oleh: Habib Acin Muhdor

Mungkin dari kita masih banyak yang beranggapan bahwa satu kejadian atau sebuah fenomena politik hanya lahir karena satu tujuan.

Karena itu, kita melupakan nama "Buni Yani". Seorang pengajar yang juga pernah duduk di bangku Universitas Ohio, Amerika Serikat.
Dikabarkan, ia masih terikat kontrak akademis dengan Leiden University, Belanda. Itu karena Desertasinya yang tak kunjung rampung.

Sobat tahu "stimulant"? (Perangsang). Buni Yani tak ubahnya itu, ia merangsang banyak srigala-srigala politik untuk mengaum bebas dalam gelanggang yang saat ini kita sebut "Jakarta".

Sobat tahu apa yang dia perbuat telah menyulitkan banyak orang? Telah membahayakan nasib banyak orang? Berikut daftar kabar duka setelah reaksi rangsangan si Buni Yani:

1. Kecelakaan bus di Cipali
2. Hancurnya beberapa tempat dan super market (paska 411)
3. Terbukanya pintu konsolidasi dengan teroris yang menyusup dalam aksi 411
4. Berhentinya perputaran uang DKI di daerah kelapa gading dengan calon transaksi sekitar 1,2 T (belum di daerah lain) selama beberapa hari paska 411 dan 212.
5. Beberapa warga luar kota yang kesulitan pulang kampung paska 411 dan 212
6. Pengrusakan mobil dinas media swasta
7. Penghancuran kendaraan dan kurangnya simpati masyarakat pada etnis Tionghoa sampai penganiayaan terhadap wartawan di Istiqlal.
8. (Sobat bisa tambahkan sendiri)

Mengapa semua daftar itu kita tak anggap sebagai akibat dari stimulant person bernama "Buni Yani"? Dan mengapa sampai saat ini dia belum meminta maaf kepada segenap korban yang menjadi sasaran tak langsung dari transkrip yang disunatnya?

Di situlah peran akal sehat sesungguhnya. Kebenaran yang dapat menimbulkan kehancuran, tidak lebih indah dari basa-basi yang menciptakan keharmonisan. Saya teringat perkataan Nabi "katakan yang benar walau pahit" dan sobat tahu betul bahwa ini dalam konteks personal dan tidak mengorbankan segenap nilai-nilai mulia.

Nabi pun pernah mengatakan, "Tidak semua kebenaran harus diungkap". Ini yang kerap dilupakan oleh banyak kaum muslimin (termasuk saya). Padahal, di situ Nabi memberikan pelajaran bagi kita, bahwa yang lebih penting dari kebenaran adalah akal sehat. Karena akal yang sehat akan dapat memilah mana kebenaran yang harus diungkap dan mana yang harus dijaga untuk kemaslahatan.

Sobat bisa bayangkan betapa hancurnya seseorang di mata Tuhan ketika mengungkap sesuatu yang merangsang kehancuran. Apalagi yang diungkap hanya sekedar memenuhi tuntutan politik, bukan kebenaran.

Saya sulit melupakan Buni Yani sebagai bagian dari konstelasi politik dalam negri yang makin hari kian rumit. Bahkan kematian adik kita Intan Olivia, sulit saya tak menganggapnya sebagai dampak dari politik oposisi yang telah berkerjasama dengan teroris untuk menjatuhkan Jokowi.

- SALAM TOLERANSI -

- https://twitter.com/perangdingin

*saya sengaja memilih foto ini sebagai ilustrasi, agar pembaca tak mudah melupakannya

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Pesan Tiket Langsung di Tiket.com: