Waspada Terhadap "Virus" NU, Renungan Harlah NU ke 91 (Bag. 7/Tamat)

Erhaje88


Oleh: Abdullah Nasikin

Indonesia itu menurut beliau (Habib Lutfhi bin Ali bin Yahya), tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia sekaligus terus mengancam NKRI.
Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.
Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia,
“Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk.”
Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.
“Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.
Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.
Dan semua itulah yang dilakukan oleh NU. Makanya tidaklah heran jika ada yang memutarbalikkan fakta serta melihat yang dilakukan NU adalah menyimpang dari ajaran agama Islam, karena mereka itu tidak mengenal NU.
 Hanya sebatas melihat dan mendengar, tanpa memahaminya.

Dan tidak lupa saya ucapkan selamat Harlah ke-91 buat NU yang dengan tagline "Merawat Tradisi, Mengupayakan Inovasi, Menjaga NKRI".
Jayalah NU, Jayalah NKRI!
NU kan tetap menjadi benteng pertahanan NKRI. Siapa yang ingin merusak NKRI, maka kan berhadapan dengan NU.



Pekalongan, 31 Januari 2017. 14:55 WIB*

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018