Waspada Terhadap "Virus" NU, Renungan Harlah NU ke 91 (Bag.2)

Erhaje88


Oleh: Abdullah Nasikin

Di sisi lain, NU menjadikan filsafat atau ilmu kalam sebagai landasan beragama mereka. Mereka mempelajari “ilmu berbicara” ini bersama kitab-kitab alat/lughoh dan mencampur adukkannya. Filsafat telah menjadi salah satu dasar agama mereka.
Bukankah Abu Yusuf (Ya`qub bin Ibrohim al Qodhi. Wafat : 183 H) berkata :

“Barangsiapa mencari agama dengan ilmu kalam, pasti dia zindiq. Barangsiapa yang mencari makna-makna gorib hadits, pasti dia berdusta. Barangsiapa yang mencari harta dengan kimia (sulap), pasti dia bangkrut”. (Dzammul Kalam: 326).
Sehingga Al Imam Syafi’i mengatakan : ‘Hukuman terhadap ulama ilmu kalam ialah mereka ini dipukul dengan pelepah kurma dan kemudian dikelilingkan di berbagai kampung dan kabilah untuk dinyatakan di hadapan mereka : Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan terjun dalam ilmu kalam.’ (Hr. al-Harowi dalam kitab Dzammul Kalam: 356).
Di NU juga ada aliran Tashawuf. Tapi mereka tak berani terang-terangan dalam mengajarkan aqidah ini. Metode mereka menggiring orang kepada pemahaman ini secara tak sadar melalui berbagai kiasan dan perumpamaan. Dan masyarakat nahdliyyin yang kebanyakan rakyat tak terdidik tidak sadar akan hal ini. Mereka telah dibuat kacau akal dan perasaannya karena tashawuf.
Cobalah kalian periksa sendiri aqidah mereka! Aqidah mereka itu aneh, campur aduk dan kacau balau. Tak bisa dijelaskan dan diluruskan baik dengan akal maupun dalil. Menyusun aqidah sendiri, padahal dalam syariat Islam sendiri tidak ada tashawuf.
Namun kata mereka tashawuf itu mengolah jiwa. Dan hasilnya mereka memang menjadi orang gila yang ahli jiwa. Mampu mengubah hati manusia dan merusak jiwa musuh-musuh mereka sebagai mana hati dan jiwa mereka.
Lihatlah Yahudi dan Nasrani musuh-musuh Islam. Punya berbagai kekuatan ekonomi, politik, militer, media mereka berkuasa. Orang Islam punya apa?
Orang NU berinovasi bahwa kita harus menyatukan kekuatan entah dari mistik tak peduli itu dari bangsa jin ke dalam kehidupan kita agar umat Islam punya kekuatan. Bukankan Islam itu rahmatan lil ‘alamin? Bukankah Rasullah SAW diutus pada jin dan manusia? Mereka berkhayal bahwa dengan meminta bantuan jin, mereka akan memperoleh kekuatan yang luar biasa yang tak akan terkalahkan.
Sudah jelas bagi kita bahwa perbuatan macam itu adalah terlarang. Tapi mereka tak peduli. Semuanya dilakukan untuk mencapai maksud tujuan mereka.
Orang NU tak segan belajar mistik. Mereka menyebutnya “ilmu hikmah”. Jadi hikmah itu bagi mereka bukannya akhlak tapi kesaktian, guna-guna, dan semacamnya.
Dengan ilmu mistik mereka bisa punya pengaruh dan kewibawaan dan mudah menguasai hati manusia. Dengan mistik orang-orang yang menghalanginya diguna-guna.
Dengan mistik mereka punya Pagar Nusa yang kuat digilas truk dan tak mempan dibacok.
Lantas apa beda mistik mereka dengan sihir?

(Selanjutnya...)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

Online Shop: