Waspada Terhadap "Virus" NU, Renungan Harlah NU ke 91 (Bag. 4)

Erhaje88

Oleh: Abdullah Nasikin

Politik adalah salah satu kekuatan NU terbesar. Salah satu musuh Islam adalah yahudi. Dan salah satu keunggulan yahudi adalah politiknya. Untuk mengalahkan yahudi kita harus belajar lebih jahat dari yahudi. Berpedoman pada azas ini mereka memutuskan untuk belajar “politik” untuk mengalahkan politik yahudi.
Bahkan lebih dari itu mereka juga mendapat wangsit entahvdari mana dalam merumuskan dan menjalankan politik mereka.
NU merasa mereka itu termasuk yang terdepan dalam melawan Yahudi dan Nasrani. Kenyataannya musuh NU itu dalam prakteknya bukan Nasrani atau Yahudi tapi "umat Islam" sendiri. Siapapun yang menghalangi jalannya mereka hancurkan. Karenanya semua musuhnya adalah salah dan NU lah yang paling besar dan benar. Mereka menghancurkan "Islam" dan "umat Islam" untuk menegakkan keyakinan agama (NU) mereka.
NU itu sebagai identik dengan bid’ah, mereka ingin menyatukan segala macam bid’ah dalam satu wadah. Yang penting mereka besar. Mereka memang suka yang besar-besar
Salah satu orang yang aktif menyebarkan bid'ah di dalam dunia nyata dan dunia maya adalah Putra Rahman. Dia adalah seorang yang aktif dalam NU, terutama di Lesbumi dan Lakpesdam NU Jawa Tengah. Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia) adalah lembaga yang bernaung di bawah PBNU (Pengurus Besar Nahdhatul Ulama). Pada mulanya, keberadaan lembaga ini merupakan upaya implementasi gagasan kembali ke Khittah yang diamanahkan pada muktamar ke-27 di Situbondo, diawali dengan perbincangan tentang pentingnya membuat konsep Pengembangan SDM NU (PSDM NU).
Namun dalam perjalanannya, lembaga ini seolah-olah sebagai wadah kaum liberalis untuk memperjuangakan dan menebarkan virus penyakit SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Lakpesdam menjadi lahan yang teramat subur untuk menanamkan benih-benih pemikiran liberalisme. Di bawah payung Lakpesdam ini, agenda kegiatannya pada tiga aspek utama, yaitu membendung fundamentalis Islam, mencegah munculnya kekerasan yang mengatasnamakan Islam dan mengembangkan demokrasi, menghargai HAM dan mengembangkan paham Islam liberal yang toleran, pluralis dan emansipatif.
Barangkali popularitas dan pengaruh Putra Rahman di tubuh NU tidaklah seberapa dibandingkan tokoh-tokoh liberalis ‘sepuh’ di ormas tersebut semisal KH. Said Aqil Siradj, Gus Dur, KH. Masdar Farid Mas’udi, KH. Mustofa Bisri, KH. Alwi & Quraish Syihab, dan sederet nama lainnya. Gus Ulil Abshar Abdalla dan Kyai Zuhairi Misrawi, dua liberalis yang aktif di Lakpesdam ini juga tidak kalah sengitnya dalam ‘mengusik‘ dan merongrong kemurnian syariat Islam. Peran mereka sangat menentukan gerak langkah ormas NU ke depannya. Karena di tangan merekalah tongkat estafet kepengurusan PBNU ini akan diberikan. Lokomotif NU akan dikendalikan oleh mereka-mereka itu. Rangkaian gerbong di belakangnya tentu akan mengikuti ke mana arah lokomotif itu berjalan.

(Selanjutnya...)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

Online Shop: