Anak - Anak Kecil di Cilincing Kompak Teriak: "Yang Dukung Ahok Orang Kafir....!"

Erhaje88


Oleh: Habib Acin Muhdor

Video yang saya temukan di Youtube berdurasi 1menit 19detik mewartakan kondisi warga di Cilincing yang beraneka ragam usia, seperti acara kerakyatan. Sebagian dari kita mungkin mengira bahwa acara kerakyatan ini berisikan ritual kebhinnekaan. Tapi kali ini berbeda.
Acara ini dihadiri oleh bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak mereka yang usianya terbilang sangat muda, kisaran usia 8 tahun sampai 11 tahun. Mereka bersorak diulang-ulang dengan kompak “YANG MILIH AHOK ORANG KAFIR”. Hanya ada dua kemungkinan: Black campaign dalam kegagalan moral atau kegagalan moral dalam black campaign. Dalam kaca mata politik, hal ini merupakan kegagalan pihak oposisi dalam menjaga etik publik, hal ini sangat membahayakan pihak oposisi. Bila masih ada yang menilai kejadian ini natural, sekilas tak terorganisir, kita harus melihatnya dari segi kultur bangsa, khususnya Jakarta yang mayoritas Islam. Tidak pernah ada kata “kafir” dalam kepala anak-anak kita, apalagi ditujukan kepada seseorang yang bahkan kita sendiri belum mengetahui apakah dia kafir atau masih akan kafir, atau sudah tidak kafir ataupun itu. Kita belum dapat izin langit untuk menentukan seseorang kafir atau tidak. Saya pastikan, ini terorganisir. Anak-anak kecil itu dengan lantang dan merasa bangga meneriakkan selogan kebencian dengan muatan sentimen agama, didampingi orang-orang tua yang terkesan sangat menikmati jeritan-jeritan amoral itu. Bila politisi yang menjadi sutradara dalam drama ini, dia blunder. Anak-anak itu juga yang nantinya akan berteriak “YANG MILIH TITIK-TITIK SILUMAN KUDA” atau “YANG MILIH TITIK-TITIK SALAH DUDUK”. Lebih dari itu, anak-anak kecil yang dieksploitasi untuk kepentingan politik ini akan menjadi generasi penista agama kolektif. Karena agama ditangan manusia tanpa ilmu dan moral akan mejadi pisau yang sangat tajam yang bukan hanya dapat melukai orang lain, tapi juga melukai dirinya sendiri. Bukan hanya menistakan agama orang lain, tapi juga menistakan agamanya sendiri. Kita masuk pada kemungkinan kedua, kegagalan moral dalam black campaign. Saya sengaja kekeuh dari awal mengatakan ini “Black Campaign“, karena sudah jelas. Gerak politik anti petahana yang berulang kali gagal bermain bersih, pada akhirnya menjadikan agama sebagai alat politik anti Ahok. Andai tidak ada kata “kafir” dalam jeritan anak-anak kecil itu, saya sangsi menyebut ini sebagai black campaign. Bisa diasumsikan hanya reaksi karena kekecewaan mendalam terhadap sikap Ahok yang dituduh menistakan agama. Wajar-wajar aja dong? Kembali pada pemetaan awal. Bila ini merupakan kegagalan moral dalam black campaign untuk menjatuhkan Ahok, yang paling bertanggung jawab terhadap hancurnya moral adik-adik kita di Cilincing adalah para oknum pembenci Ahok yang menanamkan sentimen agama pada nadi publik. Bila memang Islam harus dibela dan menolak pemimpin kafir, mengapa anak-anak di Cilincing dibiarkan untuk menjerit dengan kalimat yang Rasul sendiri tidak pernah mengajarkannya?. Mengapa Konsep Akhlak dalam Islam yang begitu agung tidak terwaris pada adik-adik kita Di Cilincing?. Inilah yang jadi kecurigaan dan kekhawatiran saya sejak lama. Para pembaca Seword yang budiman, semoga artikel ini tidak terkesan menggurui, saya memulai kalimat penutup ini dengan nasihat untuk diri saya sendiri. “Cin, yang seharusnya lo khawatirkan bukanlah dipenjaranya seorang petahana, bukan juga hilangnya ketidak-adilan di negri ini, bukan juga terpilihnya orang yang lo benci menjadi Gubernur DKI. Ahok dipenjara atau tidak, itu ada yang ngatur. serahkan pada yang berwenang. Hilangnya ketidak-adilan di negri ini juga ga perlu dirisaukan, kita sudah terlalu lama dalam kebobrokan nilai keadilan. Artinya kita sudah terbiasa dengan hal itu. Soal pemimpin yang lo ga suka menjadi pemimpin, jangan dikhawatir. Itu pilihan rakyat yang lo harus hargai. Yang harus lo khawatirkan adalah saudara-saudara lo kaum muslimin yang menyandang label sebagai “mayoritas”. Mereka mungkin punya niat tulus untuk membela agama, mereka mungkin memang sakit hati dengan blunder words Ahok. Tapi emosi ga akan ngasih dampak yang dominan positif. Lo bayangin, Indonesia yang ragam agama akan melihat Islam begitu mengerikan, Islam begitu sombong, Islam yang katanya agama rahmat cuma jadi alat sebagian orang untuk kepentingan politik. Yang harus lo sayangkan adalah karena Islam yang salah dijunjung oleh orang-orang yang notabene belum mendalam ilmu tentang agamanya, adik-adik kita menghina temannya dengan kata “kafir”. Karena agama yang salah dipahami, banyak dari kaum muslimin memusuhi perbedaan dan menjadikan ini sebagai pemuas dahaga hegemoni barat untuk menjatuhkan pemerintahan kita. Dan yang terakhir, lo liat sendiri, adik-adik kecil kita di Cilincing berteriak “YANG MILIH AHOK ORANG KAFIR”, mereka dari kecil sudah jadi pengkafir. Stop mikirin Ahok, stop mikirin keadilan, Agama lo dalam bahaya!”. Untuk para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi muslimin sejati! jaga pikiran dan hati anak-anak kalian, ajarkan mereka berpikir dan bersikap, kenali mereka khazanah ilmu Islam yang begitu luas. Nikmat lisan agama ini bukan karena mengkafirkan, tapi mendoakan. Nikmat ilmu agama ini bukan soal mengidentifikasi seseorang kafir atau tidak, tapi soal mencerahkan yang masih terbelenggu. Nikmat adab agama ini bukan sebatas menghukum dengan cara biadab kepada yang salah, tapi juga menebar rahmat kepada seluruh alam, sekalipun ia tak bertuhan. (seword.com)


Astaghfirullah! Anak-Anak Cilincing Kompak... oleh agus-ns

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: