Ada Apa Dengan Islam di Nusantara?

Erhaje88


Oleh: Mita Handayani

Posisinya sebagai mayoritas, bukan saja secara nasional tapi juga secara global ternyata tidak bisa membuatnya menjadi kebanggaan. Islam di Indonesia tetap lah Islam pinggiran. Anak bawang di tepi peradaban. Gelar "negara Muslim terbesar di dunia" bukan berarti Indonesia menjadi kiblat rujukan umat Muslim sedunia.
Sebaliknya, Indonesia hanya lah pangsa pasar yang menarik bagi produk-produk ideologi dan ekspresi keagamaan yang terus berdatangan dari luar. Celakanya, produk-produk itu seringkali ganas.

Kita semua menyaksikannya.
Ketika busana adat mulai dituduh dosa.
Ketika wayang dan tari-tari rakyat mulai disebut sesat.
Ketika orang-orang semakin bangga membenci saudara sebangsa dan membunuh budayanya sendiri.
Apa yang tersisa untuk generasi berikutnya?

Islam di Nusantara perlu segera menemukan titik kestabilannya. Tengok lah saudara-saudara Hindu di Bali. Kecil, tapi latah kah mereka mengimpor segala ekspresi keagamaan dari India? Apakah mereka membunuh tradisinya sendiri demi merasa setaat umat Hindu di India? Ketika berada di Bali, kita tahu dan merasa bahwa kita di Bali. Bukan di India. Jelas bedanya.
Bukan berarti Bali anti-India. Bukan berarti Bali benci India. Tapi Bali menghargai miliknya sendiri. Menjadi Hindu tanpa harus membuang jatidirinya sendiri.

Mereka yang sering bertanya, "kenapa sih benci Arab?", banyak-banyak lah introspeksi. Kamu tidak bisa berkoar-koar merendahkan budaya sendiri sambil memuja budaya Arab setinggi surga, lalu heran mengapa orang-orang muak melihatmu.

Tidak akan ada yang anti-Arab jika tidak kamu duluan yang anti budaya sendiri. Tidak akan ada yang benci Arab seandainya bukan kamu sendiri yang membalut budaya-budaya Arab dengan warna intoleransi.

Islam di Nusantara, pulang lah pada jatidirimu sendiri. Ibu Pertiwi masih setia menanti.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018