Pengertian Sedulur Papat Limo Pancer

Erhaje88


Salah satu ritual yang populer di Jawa adalah persembahan pada sedulur papat. Dalam tradisi Bali, hal ini disebut sebagai Pat Kanda.

Secara umum, sedulur papat adalah empat saudara kembar yaitu: kakang kawah (air ketuban sebagai kakak tertua), adi ari-ari (plasenta sebagai adik paling muda), getih (darah), dan pusar (tali plsenta /pusar). Yang kelima sebagai pancer adalah diri sendiri. Kakang kawah disebut yang tertua, karena mati lebih dahulu begitu setelah bayi lahir. Dan Adi ari-ari adalah saudara termuda karena tertinggal. Ini yang menjadi dasar alasan dalam tradisi Jawa bahwa ari-ari dikubur secara terhormat dan diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.
Sebagian memahami, persembahan bubur lima warna agar empat saudara kembar mendukung dan melindungi sang pancer dalam menjalani hidup. Bubur lima warna meliputi warna hitam, putih, merah, kuning, dan merah diberi titik putih. Yang terakhir lambang pancer, merah adalah sel telur dari ibu dan putih adalah sel sperma dari ayah.
Jika kita memahami bahwa slametan adalah ritual untuk menjaga keselarasan diri atau harmoni dengan semesta. Maka, slamet dalam arti sebenarnya adalah dalam rangka ketenteraman bathin, yang menjadi tujuan semua orang dalam menjalani hidup. Ritual adalah sarana kontemplasi agar bathin selalu dijaga selalu selaras dengan alam.
Sedulur papat lima pancer adalah tentang lima elemen yang terdiri dari empat elemen pendukung dan satu elemen sebagai pusatnya. Empat elemen itu, antara lain: tanah, air, api, dan angin. Elemen kelima sebagai pancer adalah elemen ruang.
Elemen tanah, air, api, dan angin, selalu bergerak sesuai dengan keadaan, namun semuanya itu dalam bingkai ruang kesadaran kita. Kesadaran itu melandasi dan mencakup segalanya. Orang yang tidak punya kesadaran adalah orang yang sifatnya selalu memberontak, tidak mau tahu keadaan, dan memperlakukan alam dengan seenaknya. Mereka lupa bahwa eksistensi kita juga didukung oleh keadaan sekitar.
Filosofi memperlakukan sedulur papat sebagai mahkluk halus bukanlah mengandung arti hal-hal pendukung itu setara dengan diri kita. Ritual mengingatkan kembali agar kesadaran ini mesti menerima dan memperlakukan keadaan pendukung dengan baik. Jika kita memperlakukan alam dengan buruk, maka hal itu akan berakibat buruk pada diri kita. Jika kita memperlakukan alam dengan baik, maka ketenteraman akan muncul. Dan memang inilah cara menjalani hidup.
(Vivtor A. L.)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018