Hikayat Awal Mula Tiup Terompet di Tahun Baru dan Petasan

Erhaje88


Awalnya, budaya meniup terompet saat malam tahun baru merupakan budaya masyarakat Yahudi. Mereka merayakan bergantinya tahun yang berdasarkan dengan sistim penanggalan mereka sendiri, yaitu pada bulan ke-7 atau pada bulan Tisyri.


Sejak pertama kali berkuasanya bangsa Romawi Kuno pada tahun 63 SM, mereka mengganti kebiasaan mereka melakukan pergantian tahun baru di bulan Januari.

Sejak saat itulah mereka mulai mengikuti kalender Julian yang berubah menjadi kalender Masehi atau bisa juga di sebut kalender Gregorian.

Masyarakat Yahudi melakukan introspeksi diri sambil melakukan tradisi meniup serunai atau shofar, yang merupakan alat musik mirip dengan terompet yang digunakan pada saat malam pergantian tahun.

Tetapi sebenarnya walaupun banyak yang mengatakan bahwa shofar sebenarnya bukan terompet, namun shofar yang sebenarnya terbuat dari tanduk ini memiliki bunyi yang sama seperti terompet yang terbuat dari kertas yang seringkali digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia saat merayakan malam tahun baru.

Di mana pada masanya terompet ditiupkan oleh bangsa Yahudi untuk memberikan tanda dan mengumpulkan masyarakatnya ketika ingin melakukan ibadah di dalam sinagog, nama tempat ibadah mereka. Sejak saat itu terompet digunakan sebagai sebuah simbol keagamaan mereka untuk merayakan tahun baru.

Sedangkan di Indonesia, ada berbagai macam terompet yang digunakan untuk merayakan pergantian tahun, seperti terompet biasa atau jenis tegon dan topi, jenis burung, udang, ular, terompet gitar, dan terompet plastik.

Harga terompet bervariasi, mulai dari Rp5.000 - Rp40.000 tergantung dari bentuk terompetnya. Menjelang tahun baru biasanya harga terompet bisa berubah.

Dampaknya, banyak pedang terompet yang biasanya berjualan di desa-desa saja, menjelang akhir tahun pindah berdagang di kabupaten/kota yang ramai penduduk sehingga terompet yang dijual bisa cepat habis. Untuk pedagang terompet lainnya, biasanya hanya berjualan ketika akhir tahun dan memiliki profesi lain.

Namun, perayaan tahun baru dengan terompet dilarang di Kota Banda Aceh dengan alasan untuk menjaga ketentraman dan kedamaian. Selain itu juga Aceh merupakan daerah yang melaksanakan syariah Islam.

Sementara itu, bagi non-Muslim yang berdomisili di Banda Aceh, pemerintah mempersilakan untuk merayakan di kediaman masing-masing. Pelarangan perayaan tahun baru Masehi di Banda Aceh mulai diterapkan setidaknya tiga tahun lalu dengan menyita terompet dan petasan.

Petasan bermula di Cina

Berbicara tentang petasan, sejarah petasan bermula dari Cina. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampurkan tiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya mengusir roh jahat.

Baru pada saat Dinasti Song didirikan pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di angkasa hingga akhirnya dibedakan. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Di Indonesia sendiri tradisi petasan itu dibawa sendiri oleh orang Tionghoa. Seorang pengamat sejarah Betawi, Alwi Shahab, meyakini bahwa tradisi pernikahan orang Betawi yang menggunakan petasan untuk memeriahkan suasana dengan meniru orang Tionghoa yang bermukim di sekitar mereka.

Namun perlu diingat bahwa bermain petasan tak selamanya aman. Banyak korban umumnya anak-anak menjadi korban. (Rappler.com)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018