Hebatnya komunikasi dan diplomasi KH Ma'ruf Amin (Ketua Umum Syuriah NU)

Erhaje88



Oleh: H. Arorun Ni'am Sholeh M. A.*

Mereka menerima usulan agar peserta demo shalat Jumat di lapangan Monas, bukan di jalanan. Lapangan yg dipagari besi cukup tinggi ini bisa menampung sktr 700.000 orang. Jika jamaah demo nanti jumlahnya lebih dari itu, sdh akan disiapkan tempat di Jalan Merdeka Barat yang katakanlah bisa memuat 300.000 orang. Jadi kedua tempat bisa menampung total maksimal 1 juta orang. Ulama tahu bahwa umat yg akan datang sekitar 3 juta orang. Itu berarti, jamaah jadinya tetap akan luber juga sampai wilayah Bunderan HI, bahkan mungkin sampai Harmoni. Cerdiknya lagi, ulama kita meminta fasilitas tempat wudhu, logistik, dan pintu masuk dan keluar dari arena Monas dg lebih leluasa, tidak "dikurung" seperti waktu Aksi 411. Kecerdasan mereka lainnya adalah menerima usul agar demo cukup dilaksanakan sampai stlh shalat Jumat atau pkl 13:00 sdh hrs bubar setelah shalat Jumat. Tapi tahukah kita bahwa, utk mengalirkan orang sebanyak 3 juta orang keluar dari lokasi tsb paling tidak diperlukan waktu 4-5 jam? Artinya sama saja dengan seolah demo baru bisa tuntas pkl 18:00. Tapi, dengan demikian pihak polisi dan TNI mesti membantu para mujahid utk keluar, tanpa hrs pake gas air mata segala. Malah mereka siap membantu kebutuhan logistik, serta siap shalat Jumat bareng. Inilah diplomasi tingkat tinggi yang hebat dari para ulama kita. Tidak ada yg kehilangan muka dan semua sepakat damai, "Silahkan datang ke jkt". Yg tidak kalah penting, semua manajemen aksi yg diperlukan untuk demo 212 akan "diatur bersama" antara Polri, TNI dan GNP. Jadi pasukan liar susah masuknya. Bukan main, salut buat para ulama kita. Bangganya punya pemimpin seperti mereka, pandai berkomunikasi dg semua pihak, hingga tercapai kesepakatan ijma yg sama2 memberi manfaat dan kepuasan bagi semua pihak.
Kyai Makruf, Ketua Umum MUI dan Rais Am PBNU, sosok ulama yang paham politik. Politik santun yg bermartabat, politik kebangsaan yang menjaga harmoni, menebar maslahat dan menghilangkan mafsadat.
Kyai Makruf membaca dan memperoleh informasi akurat soal mengerasnya kedua kutub, yg jika tidak dicarikan jalan keluar akan potensial menyebabkan disintegrasi. Salah satu informasi diperoleh dr Mbak Yeni yg sempat sowan kepada beliau. Beliau akhirnya menyampaikan gagasan pentingnya dialog nasional, merajut ukhuwah Islamiyyah, ukhuuwah Wathaniyyah, dan ukhuwwah basyariyyah, yang nyaris terobek. Kyai Makruf hadir pada waktu dan tempat yang tepat. Dan Gus Dur pun mengakui kealiman dan ketajaman naluri politik beliau, hingga meminta Kyai sbg Ketua Dewan Syura PKB pertama....
Wallahu a'lam.

*Katib Syuriyah PBNU/Sekretaris Komisi Fatwa MUI

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: