Cerdas Itu Mahal

Erhaje88


Oleh: Acin Muhdor

Saya menerima teguran keras karena dianggap membela ka Ahok, yang sebetulnya ka Ahok tidak ada hubungan dengan hidup saya dan masa depan saya sebagai seorang manusia sekalipun sebagai warga DKI.

Sebelum ka Ahok hadir di tengah-tengah kita, saya sudah seperti ini dan mungkin ada perubahan dalam diri saya yang tidak ada relevansinya dengan kepemimpinan ka Ahok.



Sesuai judul "Cerdas Itu Mahal". Cerdas adalah kemampuan memahami peristiwa secara komprehensif/menyeluruh. Pandang sesuatu dari berbagai sisi, ketika akal tak mampu mencerna, cukup sabar sejenak. jangan maksa berargumen hanya karena ingin dianggap bisa berbunyi(karena "berbicara" punya beberapa persyaratan).

"Berbunyi itu mudah, yang sedikit lebih sulit adalah berbicara"

Mulai langkah baru, cermati peristiwa. Bila hanya memfungsikan Indera penglihatan tanpa akal, yang kita tangkap hanya gambar. Bukan peristiwa. Dan gambar tidak mencerdaskan, sebagian gambar justeru membodohi.

Tapi jangan paksa juga orang lain yang lebih memilih bodoh dengan harapan masuk surga, karena "pemaksaan" sekalipun untuk kebenaran akan menimbulkan resistensi. Sekarang saya mau lebih serius.

"ka Ahok, Anda menistakan Agama, akui saja dan minta maaf kepada kaum muslimin dan Anda harus dihukum sesuai UUD!"

Itu kalimat paling relijius saat ini. Mengalahkan doa untuk orang tua atau permohonan ampun kepada Allah terhadap seluruh dosa.

Okay, anggap kasus itu berakhir. Anggap Ka Ahok telah meminta maaf dan telah dihukum. Anggap saja.

Ada kasus baru:

Persis seperti apa yang dilakukan oleh Ka Ahok, tapi pelakunya bukan Ka Ahok. Orang lain dengan posisi jabatan dan sikap serupa. Tapi orang lain, dan juga non muslim. bedanya, non muslim yang satu ini mengerti sedikit tentang ilmu tafsir Al-Qur'an. Katakan namanya "Ka Ahuk"

Rupanya dalam sebuah pertemuan antara si Gubernur(bukan ka Ahok lho ya tapi Ahuk) dengan warga di pulau seribu. Si Gubernur ini memberikan wejangan tentang langkah-langkahnya ke depan, dan tidak sengaja mengucapkan kalimat yang dinilai rasis dan menistakan Agama "Jangan mau dibohongi pake ayat Al-Maidah".

Dan sama, menjadi berita Nasional yang mengundang pro dan kontra, dan sama-sama digugat oleh banyak pihak. Bermunculan juga pahlawan-pahlawan ayat yang dengan ketaqwaannya serta kejeniusannya mengatakan "AHUK HARUS DIHUKUM KARENA TELAH MENISTAKAN AGAMA"

Dengan logika-logika pas-pasan yang dikemukakan dalam berbagai kesempatan, menyudutkan Ka Ahuk karena dianggap menistakan Agama.

Harusnya kita bingung, karena umat Islam yang berbeda pandangan memiliki Al-Qur'an yang sama, kok malah bertikai dan saling melontarkan premis-premis logika. Yang satu membela Ahuk dengan premis logika dan yang satu lagi membela agama dengan premis logika.

Terbagilah dua kubu; kubu pertama, atas nama konstitusi membela ka Ahuk, kubu kedua atas nama Agama menyerang Ka Ahuk. Apabila kondisi ini terjadi lagi, kaum muslimin harus hati-hati. "Apa benar yang mengatasnamakan Agama, sejatinya membela Agama?'

Ulama seharusnya mengerti bahasa arab dengan baik. Paling tidak, syarat menjadi ulama adalah menguasai ilmu tajwid, nahwu, sorof dan bahasa arab. Itu standart paling rendah untuk mengaku ulama.

Saya menghimbau kepada kaum muslimin agar tidak gampang naik darah dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi politik yang sarat dengan issue-issue sensitif.

Dalam ilmu politik ada bahasan tentang "rekayasa politik", yaitu sebuah grand design untuk mencapai kekuasaan dengan cara melibatkan unsur-unsur yang mampu menguasai opini publik. Ini lah masalah terbesar kaum muslimin saat ini.

Bila peristiwa yang menimpa ka Ahok terjadi lagi dan menimpa ka Ahuk, jangan berlogika aneh-aneh.

Atas tuduhan penistaan Agama, alangkah baiknya kaum muslimin menggunakan logika Al-Qur'an, logika yang Allah titipkan dalam teks berbobot "Wahyu".

Buka Al-Qur'an masing-masing. Yang mengerti bahasa arab boleh menerjemahkannya langsung, yang tidak mengerti silahkan buka Al-Qur'an yang lengkap dengan terjemahannya.

Perhatikan Surah Ali Imron Ayat 7.

"Dialah yang menurunkan (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal".

Ayat di atas adalah logika paling suci yang pernah ada di muka bumi untuk menyelesaikan kasus ka Ahuk. Ayat di atas menjawab bahwa sebelum ka Ahuk bilang "jangan mau dibohongi pake ayat Al-maidah", jauh sebelum itu Allah juga sudah mengingatkan kita bahwa ada orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan menggunakan ayat mutasyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Bila Ka Ahuk hanya bilang "dibohongi", Allah bilang "menimbulkan fitnah". Lebih sadis. Artinya memang memungkinkan ada yang menggunakan ayat Al-Qur'an untuk sesuatu yang buruk.

Setelah kita membuka mata hati dan pikiran, kembali pada persoalan yang semakin mengerucut, "Apa benar dengan mendesak Ka Ahuk sebagai penista Agama merupakan aksi suci yang berakhir dengan kemuliaan? Atau ada agenda lain di balik ini semua yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekudusan ayat Al-Qur'an?".

Selamat datang dalam panggung akbar rekayasa politik. Kita semua berada dalam lingkaran opini yang dominan, namun tak semuanya sadar bahwa dalam politik, ada sesuatu yang lebih penting ketimbang Agama, yaitu kekuasaan atau dominasi. Siapapun bisa terlibat, termasuk para ulama, mungkin juga Anda, atau juga saya. Kita semua berpeluang menjadi pembela Agama dengan tujuan mulia atau menjadi pemerkosa Agama dengan tujuan kekuasaan.
(perangdingin.com/Acin Muhdor)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: