Agamu Politikmu, Agamaku Politikku (1)

Erhaje88


Oleh: Acin Muhdor

Saya dapat pertanyaan begini.
"Politik dan Agama bisa dipisahkan ga?"
Karena pertanyaan ini muncul dalam kolom komentar pada salah satu status saya, otomatis saya tak bisa menjawabnya dengan utuh. Tapi saya akan coba mengulasnya di postingan kali ini.
Sebelumnya, untuk menyegarkan pola pikir demi memahami relasi antara Agama dan Politik, yang paling penting adalah merefleksi ulang arti "Agama". Mudah-mudahan saya tidak keliru memaknainya.

Agama adalah cara pandang terhadap kesucian wahyu. Dengan itu, agama bisa dibagi dalam dua arti; agama sebagai wahyu dan agama sebagai ajaran
1. Agama sebagai wahyu:
Agama di sini adalah Ilham khusus yang Tuhan titip langsung kepada Nabi pilihannya. Di situ agama bukan sebagai teks maupun kaidah-kaidah sebagaimana yang kita terima. melainkan sebuah kesadaran paling tinggi dalam diri seorang Nabi.
"Nabi tidak menerima agama sebagai ajaran, melainkan wahyu"
Sebagaimana bayi ketika lapar, tidak perlu diajarkan cara menyusui, hal itu secara fitrah sudah melekat dalam diri seorang bayi. Kesadarannya melampaui pengetahuannya.
Bayangkan, kemuliaan seorang Nabi pilihan Tuhan, mereka memiliki segala pengetahuan mendasar tentang cara-cara menjadi manusia mulia tanpa harus mengkaji kita suci dan tanpa harus membaca literatur.
Para Nabi diberikan hak berkesadaran sempurna oleh Tuhan. Jika bayi dengan kesadarannya mampu mengenali puting ibunya, dan mengetahui fungsinya, para Nabi diberikan kesadaran penuh terhadap segala hal.
Tentunya, ada hal-hal yang sengaja Tuhan rahasiakan kepada para Nabi, untuk menjadi batasan antara pencipta dengan mahluk.
2. Agama sebagai ajaran:
Di sini adalah wilayah manusia-manusia seperti kita. Manusia biasa seperti kita tidak menerima agama sebagai wahyu, karena untuk menerima wahyu perlu izin langit. Walaupun sebagian orang karena kurang dalam mengkaji sebuah agama, merasa pengetahuan agamanya adalah wahyu yang tidak boleh ditentang dan menganggap semua orang yang berbeda cara pandangnya dengan dia adalah orang-orang yang telah kafir.
Sampai di sini, terjawab sudah mengapa Agama yang sama dapat pecah menjadi aliran-aliran terapan(mazhab) yang pada praktiknya berbeda-beda. Karena yang diterima manusia biasa bukanlah wahyu sebagaimana yang diterima oleh Nabi.
Para Nabi menerima Agama sebagai wahyu dan masuk dalam tatanan kebenaran "Mutlak". Sedangkan kita yang tidak menerima wahyu, ajaran yang kita terima otomatis masuk dalam tatanan kebenaran "relatif".
Dengan itu, kita sudah harus lebih hati-hati dalam berkeyakinan. Biarkan orang lain sibuk dengan keyakinannya yang relatif, dan kita sibuk dengan keyakinan kita yang relatif juga. Sama-sama relatifnya jangan saling mendahului.
Jadi apabila Anda merasa benar dengan jalan yang anda pilih, di waktu yang bersamaan, berikan kesempatan orang lain untuk merasa benar dengan jalan yang dipilihnya.
Nah, relatifitas sebuah ajaran Agama, menjadikan fungsinya beraneka ragam. Di situ Agama dapat dikelola menjadi apapun; dari mulai pabrik budak, mesin uang, sampai penarikan singgasana kekuasaan(politik).
Mulai dari situ, Agama tidak bisa dilepaskan dari politik. Sebagai intisari tulisan kali ini, saya berikan statement sederhana.
"Agama di alam berpikir, merupakan cara pandang terhadap kesucian wahyu yang mengatur relasi antara diri kita dengan Tuhan. Agama di kehidupan bermasyarakat berubah menjadi kontrak sosial dan hak konstitusional".
Tapi, bukan berarti relatifitas menjadikan kita seenaknya dalam berkeyakinan. Relatif ada batasan-batasannya, nanti juga akan kita bahas.
Supaya tidak terlalu panjang, insyaAllah kelanjutan materi seputar relasi antara agama dan politik akan saya tulis di postingan berikutnya.
- SALAM TOLERANSI -
(facebook/acinmuhdor)

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Online Shop: BUKAYANGBAIK May 2018