Negara Mayoritas Muslim Lebih Cenderung Doyan Korupsi Daripada Negara Kafir?

Erhaje88

Mengapa kontradiksi ini terjadi?
Syaikh Muhammad Basyuni Imran, ulama Sambas (Kalimantan), pada tahun 1929 pernah berkirim surat kepada pemimpin majalah al-Manar terbitan Mesir, dijawab oleh Syaikh Syakib Arslan dengan perantara seorang pemikir dan intelektual Islam, Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935), ulama dari Mesir muridnya Muhammad Abduh (1849-1905).
Suratnya berisi pertanyaan: "Limadza ta'akhara al-muslimuuna wa taqaddama ghairuhum?”

Mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju? Surat itu dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip dari pertanyaan itu.


Inti dari jawaban Rasyid Ridha, Islam mundur karena meninggalkan ajaran (kitab)-nya, sementara umat diluar Islam maju karena meninggalkan ajaran (kitab)-nya yang telah usang.
Selain dari data-data korupsi tersebut, umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran iqro' (membaca) dan cinta ilmu. Tidak aneh dengan situasi seperti itu, Indonesia saat ini menempati urutan ke-60 dari 61 negara hasil survei, dalam hal tradisi membaca. Survei prestasi membaca dalam sebuah studi yang dilakukan oleh John Miller, presiden Central Connecticut State University di New Britain dimana Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara.
(http://www.theguardian.com/books/2016/mar/11/finland-ranked-w
orlds-most-literate-nation)

Muslim juga meninggalkan budaya disiplin dan amanah, sehingga tak heran negara-negara muslim terpuruk di kategori 'low trust society' yang masyarakatnya sulit dipercaya dan sulit mempercayai orang lain alias selalu penuh curiga. Mengabaikan amanah tersebut, termasuk perbuatan korupsi (waktu, jabatan, uang, dsb).

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. al-Anfal, 8:27).

Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam; "kebersihan itu sebagian dari iman", nyatanya masih menjadi slogan kosong pada beberapa tempat seperti selokan dan sungai yang dipenuhi sampah.
Seandainya keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah jama’ah hajinya pastilah Indonesia ada di ranking pertama.

Berdasarkan data-data tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa negara yang paling Islami ternyata bukan mayoritas muslim, atau yang berlandaskan Islam. Tapi bangsa dan negara yang mengamalkan ajaran Ilahi, bukan yang menjadikan kitab sucinya sebagai alat politik.

"Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Huud, 11:117).

Jadikan kitab suci sebagai sumber inspirasi bukan menjadikan aspirasi atas nama agama. Dimana ajaran Islam pada implementasinya diharapkan menjadi agama yang toleran membawa kebenaran, kebaikan dan kasih-sayang atau singkatnya menjadikan watak bangsa yang ber'akhlaqul kharimah'. Seperti yang diajarkan Nabi Muhammad Saw:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Bukhari).

Kita harus sadar bahwa jika Islam diubah menjadi ideologi politik, ia akan menjadi sempit karena dibingkai dengan batasan-batasan ideologis dan platform politik.

Menarik sebagai otokritik seperti yang dikatakan filsuf Perancis, Ernest Renan (1823-1892) yang terkenal dengan definisinya tentang bangsa. Menurutnya yang membentuk karakter suatu bangsa bukanlah ras, bukan etnik, bukan agama, bukan bahasa, bukan geografi. Melainkan adalah gairah dan keinginan untuk hidup bersama (toleran) dengan yang lainnya serta lingkungan sekitar.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE