11 Oct 2017

Macam – Macam Puasa dan Tirakat Orang Jawa

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tirakat yang bermaksud mendekatkan diri kepada tuhan, berupa perilaku, hati dan pikiran.
Tirakat adalah bentuk upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan.


Belajar Tirakat
Berpuasa temasuk salah satu bentuk tirakat , dengan berpuasa orang menjadi tekun dan kelak mendapat pahala, orang jawa kejawen menganggap bertapa adalah suatu hal penting. Menurut kesusastraan jawa orang yang bertahun-tahun berpuasa dianggap sebagai orang keramat. Karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan tinggi. Serta mampu menahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai, selain puasa kegiatan tirakat lainnya adalah meditasi dan semedhi.

(Ilustrasi Gambar Google)
Menurut Koentjaraningrat meditasi dan semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapa brata , yang dilakukan ditempat-tempat yang dianggap keramat missal gunung, makam leluhur, ruang yang memiliki nilai keramat dsb. Pada umumnya orang yang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan diri dengan tuhan.

Baca: Laku Kebatinan Jawa Untuk Mencapai Hakekat Hidup

Ada beberapa bentuk puasa dan tirakat misalnya:

1. Tidak tidur semalam suntuk/ pati geni tidak boleh keluar kamar semalam suntuk, tidak boleh tidur dan makan minum.
2. Puasa senin kamis
3. Mutih mulai dari kemampuan satu hari hingga 40 hari hanya makan nasi putih dan minum air putih sedikit pada saat matahari terbenam.
4. Ngeruh yaitu hanya boleh makan sayur dan buah , dilarang yang bernyawa.
5. Ngebleng yaitu tidak keluar kamar sehari semalam , tidak ada lampu, hanya keluar saat buang air kecil, tidak boleh tidur, makan dan minum
6. Nglowong hanya makan tertentu dengan waktu tertentu tidur hanya 3 jam.
7. Ngrowot hanya boleh makan satu jenis buah maksimal 3 buah dari subuh sampai magrib.
8. Nganyep/ ngasrep boleh makan sembarang tapi yang tidak ada rasanya dan harus didinginkan sedingin dinginnya.
9. Ngidang hanya boleh minum air putih dan daun. Lainnya tidak boleh.
10. Ngepel hanya makan nasi sehari satu kepal sampai 3 kepal saja.
11. Wungon tidak boleh makan minum dan tidak tidur selama 24 jam
12. Ngalong , puasa ngrowot sambil menggantung di atas pohon dengan posisi kaki diatas kepala dibawah / sungsang.
13. Topo jejeg yaitu tidak boleh duduk selama 12 jam
14. Lelono melakukan perjalanan malam jam 12 sampai jam 3 untuk mawas diri atas kesalahan yang diperbuat selama ini.
15. Kungkum yaitu puasa bersila dalam sungai yang ketemu dua arusnya mulai jam 12 malam sampai jam 3 atau jam 4 pagi.
Tatacara tapa Kungkum adalah sebagai berikut :
a. Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar-pun dengan posisi bersila (duduk) didalam air dengan kedalaman air se tinggi leher.
b. Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai
c. Menghadap melawan arus air
d. Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai
e. Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana
f. Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan dilakukan lebih dari tiga jam (walau ada juga yang memperbolehkan pengikutnya kungkum hanya 15 menit).
g. Tidak boleh tertidur selama Kungkum
h. Tidak boleh banyak bergerak
i. Sebelum masuk ke sungai disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu)
j. Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada
k. Nafas teratur
l. Kungkum dilakukan selama 7 malam biasanya

16. Topo pendem / ngluwang yaitu puasa dikubur hidup-hidup hanya deberi jalan nafas, biasanya selama 3 hari atau 7 hari, pertaruhannya nyawa dan hasilnya adalah mampu menghilangkan tubuh dari pandangan orang atau melihat jelas dengan mata telanjang orang/ mahluk – mahluk ghoib.
Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah, jin dlsb).

17. Ngalong
Tapa ini dilakukan dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas
(sungsang. Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak.
Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.
18. Ngrame
Tapa Ngrame dilakukan ditengah keramaian, yakni selalu menebarkan kebajikan dan memerangi angkara seperti yang dilakukan oleh para ksatria yang diiringi Punakawannya dalam cerita pewayangan.

Menurut Dr. Simuh, orang Jawa juga melakukan tapa yang berhubungan dengan anggota badan, yakni:

 Mata : tapanya mengurangi tidur, zakatnya tidak menginginkan apa yang sudah dipunyai orang lain.
 Telinga : tapanya mencegah hawa nafsu, zakatnya menghindari mendengar segala perbantahan
 Hidung : tapanya mengurangi minum, zakatnya tidak mencela keburukan orang lain.
 Lisan : tapanya mengurangi makan, zakatnya menghindari menggunjing keburukan orang lain
 Aurat : tapanya menahan syahwat, zakatnya menghindari perbuatan zina
 Tangan : tapanya mencegah perbuatan mencuri, zakatnya lumuh mara tangan atau tidak memukul orang lain
 Kaki : tapanya tidak untuk berjalan buat keburukan, zakatnya suka berjalan buat istirahat ( Simuh, 1988 : 344-345 )

Sedangkan menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, dalam upaya mendekatkan diri kepada Gusti Allah, manusia Jawa juga harsu menjalankan 7 macam tapa, yaitu :

1. Tapa Jasad, yakni laku badan jasmaniah. Hati agar dibersihkan dari sifat benci dan sakit hati, rela atas nasibnya, merasa diri pasrah terhadap ketentuanNya. Hal ini merupakan tingkah laku yang berada dalam tataran syariat.
2. Tapa Budi, yakni laku batin atau laku tarikat. Hati harus jujur, menjauhi segala bentuk dusta dan menepati segala janji.
3. Tapa Hawa Nafsu, yakni berjiwa sabar dan alim serta memaafkan kesalahan – kesalahan orang lain.
4. Tapa Brata atau Tapa Rasa Sejati, yakni menempa diri melakukan semedi untuk mencapai beninge kalbu atau ketenangan batin
5. Tapa Sukma, yakni bersikap ambeg parama arta atau bermurah hati, ikhlas dalam berbagi dan tidak mengganggu orang lain.
6. Tapa Cahya Amuncar, yakni agar hati selalu awas dan ingat, mengerti lahir batin, membedakan yang palsu dan sejati.
7. Tapa Hidup ( Tapaning Urip ), yakni melakoni hidup dengan penuh kehati – hatian serta ikhlas tanpa rasa khawatir karena percaya segala sesuatu yang terjadi adalah merupakan kebijakan dari Gusti Allah Yang maha Mengetahui.

Secara umum bertirakat / berpuasa / bertapa harus dimulai dengan mandi keramas / bersuci dan niat dalam hati untuk mendekatkan diri pada tuhan.
(Mistik Indonesia)

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE