Berguru Kepada Pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari

Erhaje88

Oleh: Ahmad Baso*

Hadlratus syeikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng, Jombang, yang juga pendiri Nahdlatul Ulama, adalah guru paripurna. Ribuan santri beliau didik, dan ratusan dari mereka menjadi ulama, kiai, pendiri pondok pesantren, atau menjadi tokoh-tokoh umat Islam. Ini belum termasuk santri-santrinya yang terbilang mustami’ (pendengar setia sang guru), ngaji sekilas kepada beliau, jejer pandito dalam waktu singkat atau yang hanya sekedar minta doa dan obat kepada beliau.

Bagaimana beliau mendidik santri-santrinya? Rasa cinta, tanpa membeda-bedakan. Saking cintanya itu pada santri-santrinya, di hari-hari menjelang wafatnya (pada 7 Ramadhan 1336 H/ 26 Juli 1947), yang diingat beliau hanya seorang santri mustami’ yang disayanginya, Bung Tomo, tokoh pahlawan nasional 10 November 1945. Waktu itu sedang terjadi agresi militer Belanda yang pertama ke daerah Jawa Timur, hingga masuk ke kota Malang, tempat Bung Tomo membangun basis bersama para anggota TNI dan laskar rakyat. Jatuhnya kota Malang dalam agresi tanggal 23 Juli itu membuat Hadlratus syeikh shock, lalu jatuh sakit, hingga ajal menjemput.

KH. Hasyim Asy'ari dilahirkan pada 10 April 1875/24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tutup usia 25 Juli 1947. dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang

Diceritakan pula: suatu hari seorang anak bos pabrik gula Cukir, Jombang, keturunan Belanda, jatuh sakit. Berbagai cara dilakukan, dokter juga sudah gonta-ganti, tapi semuanya tidak membantu. Akhirnya beliau mendatangi anak tersebut, membacakan doa-doa, dan akhirnya sembuh. Sejak itu sang anak menjadi mustami'-nya sang Hadlratus syeikh. Itulah sebabnya mengapa beliau disapa “Hadlratusysyekh”, guru para ulama.

Bagaimana cara Hadlratusysyekh KH. Hasyim Asy'ari menperlakukan masyarakat, bahkan yang bajingan sekalipun?

Ini cerita awal berdirinya Pesantren Tebuireng, Jombang, di tangan KH. Hasyim Asy’ari. Karena gangguan keamanan dari para penjahat yang sewaktu-waktu bisa membahayakan orang-orang pesantren, Hadlratus syekh mengambil inisiatif agar para santri bisa belajar ilmu silat.
Untuk itu beliau mengutus seorang santrinya ke Cirebon meminta bantuan kiai-kiai terkenal di sana, Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syamsuri Wanantara, Kiai Abdul Jamil Buntet dan Kiai Saleh Benda Kerep. Kelima kiai jago silat atau pendekar itu datang ke Tebuireng mengajarkan para santri ilmu silat. Delapan bulan kemudian, para santri sudah menguasai ilmu tersebut, dan menjadi bekal mereka untuk menghadapi para bandit. Belakangan para bandit ini bertobat dan berguru kepada sang kiai ideolog ini dan menjadi mustami pesantren.

Juga diceritakan bagaimana KH. Hasyim Asy’ari menghadapi kelompok masyarakat yang suka main judi. Beliau jelas tidak menggunakan cara kekerasan memberantas perjudian. Tapi beliau menggunakan pendekatan kemaslahatan untuk mengajak masyarakat ke jalan yang benar secara perlahan dan sabar: beliau ikut main kartu bersama mereka, lalu bisa mengalahkan para preman pelaku judi, hingga mereka bertekuk-lutut dan mau menjadi santri dan berguru pada pendiri Pesantren Tebuireng ini. Praktik-praktik perjudian pun dengan sendirinya ditinggalkan oleh masyarakat.

Tan Malaka dan Soekarno Belajar Pada KH Hasyim Asy'ari

KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok paripurna seorang “alim” yang selalu dikejar ilmu dan barakahnya oleh kalangan santri dan masyarakat. Hingga makamnya pun tidak pernah sepi dari para penziarah.
Tidak heran kalau Tan Malaka sendiri selama hidupnya menyempatkan diri berguru pada beliau di pondoknya di Tebuireng dari maghrib hingga shubuh pada tanggal 12 atau 13 November 1945.
Lihat dalam Harry A. Poeze, Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Leiden: KITLV, 2007), vol. 1, hal. 145-6.

Soekarno pun ikut berguru di satu pesantren di Sukanegara, Cianjur selatan, di dekade 1940-an. Dan bukan pula kebetulan, kalau guru Soekarno ini, KH. Ahmad Basari atau dikenal Kiai Sukanegara, asal Madura, adalah santri KH. Hasyim Asy’ari. Ya, Soekarno ingin cari barokah Hadlratusysyekh di Sukanegara.
Anda ngaku kiri? Belajarlah ke Soekarno dan Tan Malaka yg ikut nderek kiai, bukan menghakimi kiai.


Karomah KH Hasyim Asy'ari

Karomah keilmuan Hadlratus syeikh KH. Hasyim Asy’ari muncul sejak beliau nyantri di beberapa pesantren.
Beliau pernah nyantri dan berguru pada seorang ulama kharismatik kenamaan, Syaikhuna Cholil Bangkalan, Madura (wafat 1924). Di masa-masa awal nyantri, kakek Gus Dur ini hanya disuruh angkat air dan mengisi tempayan atau kolam pondok untuk wudhu dan cuci kaki para santri dan jamaah. Akibatnya, banyak waktunya habis untuk mengambil air dan bukan ngaji kitab. Tapi ternyata dengan cara ini sang guru mengajarkan santri kesayangannya itu satu pendidikan karakter untuk belajar mandiri, tekun, ulet, ikhlas, rajin bekerja dan juga untuk menghargai sumber-sumber air sebagai kekayaan alam yang diberikan Tuhan ini, serta memanfaatkannya untuk sebesar-besar kemaslahatan orang banyak.

Bagi beliau, berguru mengharuskan sang santri bukan hanya total pasrah kepada sang kiai, tapi juga mengerahkan segenap raga dan jiwa yang dimilikinya untuk guru, untuk ilmu.

“al-Ilmu la yu’thika ba’dlahu hatta tu’thiyahu kullaka” (Ilmu itu tidak akan memberikan sebagian dirinya, sebelum engkau menyerahkan segenap totalitas dirimu kepadanya)”, demikian yang dikatakan Ibnu Jama’ah dalam bukunya, Tadzkiratu-s-Sami’ wa-l-Mutakallim fi Adabi-l-Alim wal-Muta’allim, yang merupakan salah satu kitab favorit KH. Hasyim Asy’ari sendiri.

Berguru bagi beliau adalah sebuah pendidikan jiwa bagi para santri, untuk mengasah kepekaaan, memperhalus budi-pekerti (akhlaqul karimah), dalam berperilaku dan berpengetahuan, dan dalam bersikap terhadap berbagai aspek kehidupan. Pesantren dalam pengertian ini adalah sebuah padepokan. Untuk melakukan pemantapan-pemantapan sikap dan kepribadian, sehingga akhirnya mampu menyampaikan suara, posisi, sikap atau pendirian – untuk berbagai fenomena sosial-politik bahkan juga spiritual.

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE