Memakai Imamah-pun Bersanad, Tidak Asal Asalan Pakai...

Erhaje88

Sanad adalah silsilah atau mata rantai yang menyambungkan sesuatu yang terkait dan bertumpu kepada sesuatu yang lain.
Dalam kacamata tasawuf sanad keilmuan, sanad dzikir dan sanad thoriqoh adalah bersambungnya ikatan bathin kepada guru-guru dan mursyid.



 Sistem sanad merupakan salah satu mekanisme pencarian ilmu dan pengetahuan yang sempurna, karena setiap pengetahuan yang dipindahkan itu dapat dipertanggungjawabkan otensitas dan keabsahannya melalui rantaian periwayatan setiap perawi.
Disiplin ilmu sanad dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dalam menjamin keshahihan ilmu yang disampaikan sehingga dianggap sebagai bagian masalah kepentingan agama.
Al-Imam Ibnu Sirin (110 H/728 M) mengungkapkan sesungguhnya ilmu ini (ilmu sanad) termasuk urusan agama. Oleh karena itu, perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ajaran agama kamu.


 Ibnu Al-Mubarak juga berkata, “Pelajaran ilmu yang tak punya sanad bagaikan menaiki atap tanpa punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan umat ini dengan sanad".
Bahkan Imam As-Syafi’I mengingatkan, “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar di kegelapan malam. Ia membawa kayu bakar yang diikatnya padahal terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu."

 Contoh sebuah sanad dalam memakai imamah atau serban yg diperoleh oleh Al-habib Addai ilallah Al-allamah Ali Al Jufri Tarim Yaman, beliau mengatakan:
"Imamah (surban) yang aku kenakan ini di pakaikan padaku oleh guruku Habib Abdulqodir As Segaf, ia memakainya dari ayahnya Habib Ahmad bin Abdurrahman As Segaf dari gurunya Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dari gurunya Habib Abubakar bin Abdillah Al Atthas dari gurunya Habib Hasan bin Sholeh Al Bahr Al Jufry dari gurunya Habib Umar bin Segaf As Shafi As Segaf dari gurunya Habib Hasan bin Ali Al Jufry dari gurunya Habib Ahmad bin Zain alAl Habsyi dari gurunya Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dari gurunya Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas dari gurunya Habib Husain bin Syekh Abubakar dari ayahnya sang guru besar Habib Abubakar bin Salim dari gurunya Habib Syihabiddiin Al Akbar dari gurunya Habib Abdurrahman bin Ali As Segaf dari ayahnya Habib Ali bin Abubakar As Segaf dari ayahnya Habib Abubakar bin Abdurrahman Assegaf dari ayahnya Habib Muhammad bin Ali Mawladdawilah dari ayahnya Habib Ali bin Muhammad dari ayahnya Habib Alawi Al Ghayyur dari ayahnya Sayyidina Al Faqih Muqoddam sang maha guru agung dari ayahnya Sayyidina Ali dari ayahnya Sayyidina Muhammad Shohib Mirbath dari ayahnya Sayyidina Ali Kholi' Qosam dari ayahnya Sayyidina Alawi dari ayahnya Sayyidina Muhammad dari ayahnya Sayyidina Alawi dari ayahnya Sayyidina Ubaidillah dari ayahnya Sayyidina Ahmad Al Muhajir dari ayahnya Sayyidina Isa An Naqib dari ayahnya Sayyidina Abu Muhammad Jamaluddin An Naqib dari ayahnya Sayyidina Ali Al 'Uraidhi dari abangnya Sayyidina Musa Al Kadzim dari ayahnya Sayyidina Ja'far As Shadiq dari ayahnya Sayyidina Muhammad Al Baqir dari ayahnya Sayyidina Ali Zainal Abidin As Sajjad dari ayahnya sang cucu agung Sayyidina
Al Imam Husain dari ayahnya sang maha kotanya ilmu Sayyidina Ali bin Abi Thalib dari sepupunya Sayyidina Rasulillah sallallahu alaihi wa sallam..."



 Begitu pula dengan guru besar kita Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya (semoga Allah Swt senantiasa memberinya kesehatan, panjang umur dan keberkahan. Amin) juga memiliki sanad khusus dalam mengenakan imamah, bahkan ijasah dan sanad tersebut tidak diperoleh dari seorang guru saja, akan tetapi dari banyak guru.
Seperti yg kita lihat dalam gambar-gambar disini, Maulana Alhabib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dipakaikan secara langsung imamah oleh para guru besar thoriqah Alawiyah beliau, dan diijazi untuk memakainya, yaitu Allamah Assayid Muhammad bin Alwi Almaliki Mekah, Allamah Addai ilallah Alhabib Umar bin Hafidz Tarim Yaman, Allamah Addai ilallah Alhabib Ali Bubakar Almasyhur Tarim Yaman dan syeikh Muhammad Fadhil al-Jilani, yg sudah barang tentu setiap dari mereka memiliki sanad dan jalur ijazah yg berbeda-beda.


 Sehingga imamah yg dipakainya itu bukan sekedar sebagai mahkota dan mengikuti sunnah baginda nabi saw semata, namun juga memiliki sanad dan ijasah jelas yg terus menyambung, dari guru ke gurunya, hingga sampai kepada baginda Nabi saw, yg tentunya hal itu akan memberikan keberkahan, sir dan madad secara khusus dan bermanfaat dunia akherat.


*Sumber : Habibana Muhdor Ahmad

COMMENT

Click to CommentSembunyikan

No comments:

Post a Comment

Erhaje88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE