ERHAJE88 BLOG

06/12/2016

Semoga Aa' Gym Membaca Surat Terbuka Ini



Bismillahirrahmanirrahim,

Aa Gym yang saya hormati, ijinkan saya menulis untuk Aa.. seorang penggemar yang sudah lama mengagumi dakwah Aa yang begitu lembut, syahdu & karismatik

Akhir-akhir ini saya perhatikan Aa sibuk ngurusin dugaan penistaan agama Ahok.. Bahkan seolah-olah Aa sudah seperti "frontman" (jubir) untuk urusan ini..

Saya baca tulisan Aa membandingkan Ahok dengan firaun, sehebat apapun membangun mesir, Allah hancurkan karena MENISTAKAN agama Allah

Aa membandingkan Ahok dengan raja Namrud, secanggih apapun membangun Messopotamia, Allah hancurkan karena MENISTAKAN - Nya

Aa juga membandingkan dengan bangsa Saba' yang terkenal bebas korupsi, semakmur apapun bangsa Saba', Allah hancurkan karena MENISTAKAN agama-Nya

Semua yang Aa sampaikan adalah kebenaran sejarah, tiada secuil pun yang saya ingin bantah.. hanya saja saya tergelitik untuk bertanya pada Aa..

disumpah dibawah Al-Quran lalu korupsi.. menurut Aa, MENISTAKAN Al-Quran tidak ?

Menurut saya, itulah sebenar-benarnya PENISTAAN Al-Quran yang paling KEJI. yakni ketika seorang pejabat bersumpah atas nama Nya, lalu menyelewengkan jabatan menipu rakyat

Mohon jangan salah memahami tulisan saya ya Aa.. Saya menulis ini (Wallahi) BUKAN dalam rangka membela Ahok..

Saya hanya menyayangkan kenapa para Ulama sekaliber Aa, ormas Islam, bahkan MUI tidak pernah melihat ini masuk ke ranah PENISTAAN agama..

Karena Firaun-Firaun di Republik ini BUKAN monopoli pejabat non muslim. Namrud-Namrud di negeri ini juga BUKAN monopoli pejabat non muslim.

Tanpa bermaksud menggurui Aa.. ingat kata R.A. Kartini, "Agama memang menjauhkan kita dari dosa. tapi berapa banyak dosa yang dilakukan atas nama agama?"

Jangan sampai "penistaan agama" DISTIGMAKAN hanya untuk pejabat non muslim, sementara di lain pihak pejabat muslim seperti mereka seolah dapat "kartu bebas" menistakan Al-Quran

Karena saya yakin.. saya, Aa, dan kita semua, ingin yang terbaik untuk bangsa, yakni Indonesia yang makmur bebas korupsi.

Saya yakin sekali bila Ulama pro aktif mengejar dugaan penistaan agama terhadap pejabat Muslim yang korupsi, pasti akan menimbulkan EFEK JERA.

Sekian tulisan saya ke Aa. Mohon maaf bila ada kata yang tak berkenan. Wassalamualaikum Wr.Wb. Sampurasun

Permadi Arya
( Muslim yang terkafirkan )

02/12/2016

Langkah Kuda Presiden Jokowi Matikan Raja Lawan


Ketua Umum Sekretariat Bersama Rakyat (Sekber), Mixil Mina Munir mengatakan kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kawasan Monas untuk ikut salat Jumat bersama massa doa 2/12 tidak dapat diduga. Namun, Mixil meyakini bahwa kehadiran Presiden sudah direncanakan dua minggu lalu.

"Semua tidak menyangka Presiden akan hadir dan ikut salat Jumat bersama massa doa 212," kata Mixil melalui siaran persnya, di Jakarta, Jumat (2/12).

Kehadiran Presiden Jokowi, lanjut Mixil, telah menyejukkan kelompok minoritas yang sebelumnya down melihat situasi massa yang masif karena dikhawatirkan akan terjadi kerusuhan.

"Kelompok minoritas takut akan terjadi kerusuhan, namun presiden Jokowi menjawab keraguan tersebut saat mendatangi Monas," ujarnya.

Wakil Sekjen GP Ansor ini menilai, Langkah kuda yang dilakukan Presiden Jokowi tidak dapat diprediksikan oleh lawan politiknya.

"Skak mat! Langkah kuda tiba-tiba Presiden Jokowi memojokkan raja lawan. Karena, dia tidak hanya datang, namun, Presiden Jokowi juga berada paling depan dalam menjaga kebhinnekaan kita," kata Mixil.

Seperti diketahui, tanpa diagendakan sebelumnya, Presiden Jokowi ikut menunaikan salat Jumat di kawasan Monas. Jokowi memilih shalat di Monas karena ingin berdampingan dengan peserta doa bersama 2/12.
Hujan deras yang mengguyur tak menghalangi Presiden Jokowi untuk menunaikan salat Jumat berjemaah. Bersama beberapa jajaran menteri Kabinet Kerja, Presiden itu memilih berjalan kaki sejauh 900 meter.


Jokowi dan rombongan meninggalkan Istana Merdeka menuju Monas pada pukul 11.40 WIB. Tiba di Monas sekitar pukul 12.00 WIB, massa doa bersama menyambut antusias kehadiran Jokowi.
Beberapa pejabat lain yang ikut Jokowi salat Jumat di Monas adalah Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, serta Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

(Tonton Video Sambutan Presiden Jokowi Usai Hadiri Shalat Jum'at di Monas:)


Selain itu, tampak Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Budi Gunawan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Iriawan, dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.



(Yustinus Paat/FMB/beritasatu.com)

[Video] Cerita Dibalik Jenderal Gatot Nurmantyo Kenakan Baret Merah di Usia 55 Tahun


Gatot lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 13 Maret 1960. Tapi sejatinya ayahnya berasal dari Solo dan ibunya dari Cilacap. Gatot dibesarkan dari keluarga yang berlatar militer pejuang sangat kental. Ayah Gatot, bernama Suwantyo, seorang pejuang kemerdekaan yang pernah menjadi Tentara Pelajar. Di masa perang kemerdekaan ayahnya bertugas di bawah komando Jenderal Gatot Subroto. Dari nama tokoh militer kharismatik itulah, ayahnya kemudian memberi nama anaknya “Gatot”.

Ayah Gatot pensiun dengan pangkat terakhir Letnal Kolonel Infanteri dan tugas terakhir sebagai Kepala Kesehatan Jasmani di Kodam XIII/Merdeka, Sulawesi Utara. Sedangkan ibunda Gatot, anak seorang Kepala Pertamina di Cilacap, memiliki tiga orang kakak kandung yang mengabdi sebagai prajurit TNI AD, TNI-AL dan TNI-AU.

Karena anak tentara, sejak kecil Gatot hidup berpindah-pindah. Setelah dari Tegal, ia pindah ke Cimahi, Jawa Barat, hingga kelas 1 Sekolah Dasar. Setelah itu ia pindah Cilacap sampai kelas 2 SMP. Lalu ia pindah ke Solo hingga tamat SMA.

Sebenarnya Gatot ingin menjadi arsitek. Makanya ia mendaftar ke Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi mengetahui anaknya mau masuk UGM, ibundanya berpesan: “Ayahmu hanya seorang pensiunan. Kalau  kamu masuk UGM, maka adik-adikmu bisa tidak sekolah.” Mendengar hal tersebut, Gatot berubah haluan.

Diam-diam dia berangkat ke Semarang, mendaftar Akabri melalui Kodam Diponegoro. Sekembalinya dari Semarang, ia memberitahu ibunya bahwa ia sudah mendaftar ke Akabri. Ibunya langsung mengizinkan dengan pesan, “Jika kamu menjadi tentara, kamu harus menjadi anggota RPKAD.” Menurut Gatot, ibunya terobsesi anaknya menjadi anggota RPKAD karena rumah orang tua ibunya dekat dengan markas RPKAD di Cilacap.

Setelah lulus Akabri 1982, Gatot berusaha masuk menjadi anggota Kopassus (nama baru RPKAD). Tapi dalam usaha pertama ia tidak diterima. Pada kesempatan berikutnya, setelah berpangkat Kapten, saat bertugas di Pusat Latihan Tempur di Baturaja, Sumsel, ia kembali mendaftar masuk Kopassus. Kembali tidak diterima. Sebenarnya kesempatan tersebut sudah habis. Tapi Gatot tidak pernah menyerah. Ia terus berdoa kepada Allah SWT agar suatu hari bisa diterima menjadi prajurit Kopassus.

Kesempatan itu akhirnya datang setelah ia menjabat KSAD (25 Juli 2014–15 Juli 2015). Tak lama setelah pelantikan, Gatot memanggil Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo dan menyampaikan maksudnya ingin mendaftar pendidikan Kopassus. Tapi Agus Sutomo menyampaikan, “Tidak usah ikut pendidikan Pak, nanti Bapak saya kasih brevet kehormatan saja”. Tapi Gatot menolak. Ia bersikukuh mau mendapat baret merah melalui jalur normal.

VIDEO KENANG KENANGAN SAAT PEMBARETAN MERAH JEND. GATOT NURMANTYO:


Maka masuklah Gatot menjadi siswa Kopassus. Ia mengikuti semua prosedur normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan baret di pantai Cilacap. Untuk itu, ia harus melalui ujian yang keras, antara lain senam jam 2 pagi, lalu direndam di kolam suci Kopassus di Batujajar. Kemudian longmarch, hingga berenang militer selama lebih 2 jam dari pantai Cilacap ke pulau Nusakambangan. Bahkan Gatot juga mengikuti pendidikan Sandi Yudha yang salah satu ujiannya harus menyusup masuk ke suatu tempat yang terkunci dan dikawal ketat oleh prajurit Kopassus. Ia lolos mulus.

Gatot akhirnya diyatakan lulus semua tahapan dan resmi diangkat menjadi keluarga besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap,  Jawa Tengah, pada 2 September 2014. Tidak seperti “brevet kehormatan” Kopassus yang disematkan di dada sebelah kiri penerimanya, brevet pasukan komando tersebut disematkan di dada sebelah kanan Gatot, sebagai tanda ia menerimanya melalui prosedur selayaknya yang harus dilalui setiap prajurit Kopassus.

Setelah resmi menjadi prajurit Kopassus, Gatot naik helikopter dari Cilacap ke Kartosuro (Markas Grup 2 Kopassus). Masih berbaret merah, pakai loreng, darah mengalir, masih pakai hitam-hitam samaran dan masih bau lumpur, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya di Solo. Di depan makam kedua orang tuanya itu ia memberi hormat dan menyampaikan,”Ibu saya sudah menunaikan tugas.”

Dan itu terjadi saat Gatot berusia 55 tahun...!

*http://forumkeadilan.co/politik/gatot-nurmantyo-siswa-kopassus-paling-tua-lulus-pada-usia-55-tahun/

Ajaran Kebangsaan dari Habib Luthfi bin Yahya


Banyak sufi sepanjang beratus-ratus tahun sudah meninggalkan cerita mengenai kebijaksanaan mereka terkait dengan raja-raja serta penguasa. Cerita Imam al-Bashri dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, al-Junaid, al-Bisthami serta al-Karkhi dengan tokoh penguasa semasanya. Walau demikian, sekarang ini masihlah ada beberapa kiai yang mengambil posisi senantiasa berhadap-hadapan, mengritik petinggi dengan argumen itu yang diajarkan beberapa ulama kita dulu selalu untuk mengambil posisi berjarak dengan pemerintah. Lantaran argumen itu, masihlah ada penceramah yang menjamah kehormatan petinggi serta mencabik-cabik nama baiknya di hadapan khalayak, dengan argumen mengritik pejabat merupakan ajaran beberapa ulama dulu serta yang sudah mereka contohkan.

Habib Luthfi mengecam keras pandangan seperti itu. Menurut Habib Luthfi, para ulama dulu sebagian bersikap demikian lantaran sistem pemerintah waktu itu tidak sama dengan saat ini. Dulu berbentuk monarki serta rakyat sekalipun tidak bisa ikut serta dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sekarang ini kita hidup dalam alam demokrasi, dimana peran aktif orang-orang serta tokoh agama begitu perlu untuk memberikan pertimbangan pada beberapa petinggi pemerintah dalam memastikan kebijakan. Lantaran lewat masukan orang-orang serta beberapa input dari golongan cerdik pandai pemerintah dapat mengambil policy yang pas. Pendirian Habib Luthfi seperti ini pada masa Orde Baru pasti tak populis. Nyaris semuanya kiai mengambil posisi berhadap-hadapan atau sekurang-kurangnya acuh pada penguasa.

Seorang sufi besar, Ahmad bin Amad al-Barnasi al-Maghribi yang dikenal dengan Syaikh Zaruq (w. 899 H) menyampaikan: “...menjaga kestabilan itu hukumnya wajib. Serta memerhatikan kemaslahatan umum itu berbentuk pasti. Oleh karenanya beberapa ulama setuju kalau lakukan ‘makar’ pada pemimpin yang sah itu haram hukumnya, baik dalam perkataan ataupun perbuatan. Bahkan juga beberapa ulama setuju (ijma’; konsensus) sah shalat di belakang seseorang petinggi maupun orang umum yang baik ataupun yang dzalim sepanjang kefasikannya itu tak dikerjakan waktu shalat. Oleh karenanya Nabi Saw. bersabda, “Tidak mencemooh satu golongan orang-orang pada pemerintah mereka terkecuali mereka bakal terhambat dari kebaikan pemerintahnya itu.” Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, “Tidak melakukan perjalanan satu golongan orang-orang menuju tempat pemerintah dengan maksud menjelek-jelekan pemerintah, terkecuali Allah bakal mengejekkan mereka".”

Habib Luthfi memanglah cuma menyampaikan kita mesti menghormati pemerintah. Mesti menghormati Presiden. Sebab Presiden itu lambang Negara. Serta beberapa lambang Negara punya sifat sakral. Di balik ajarannya itu, nyatanya ada landasan filosofis serta didasarkan atas sebagian alasan syariat. Seperti dijelaskan dalam keterangan Syaikh Ahmad Zaruq di muka kalau menghormati pemerintah tidak cuma menjadi keharusan yang berasaskan kearifan budaya tetapi ajaran Nabi Saw. Nabi mengingatkan barangsiapa yang mencemooh pemerintah, Allah bakal mengejekkannya. Bila petinggi itu dapat dibuktikan lakukan tindak pidana, menurut Habib Luthfi ada mekanisme serta cara perlakuannya. Walau demikian pada prinsipnya jangan pernah mengakibatkan kerusakan kesakralan beberapa lambang Negara.

Dalam pandangan Habib Luthfi menghormati pemerintah yaitu sisi yang tidak terpisahkan dari bentuk kecintaan pada Bangsa serta Negara. Jalinan baik Habib Luthfi dengan pemerintah dapat dilihat dari kehadiran Presiden RI pada perayaan Maulid Nabi Kanzus Shalawat pada tahun 2004 serta 2014. Gubernur serta Wakil Gubernur dari beragam provinsi, serta menteri-menteri dalam perayaan Maulid Nabi.

(Dikutip dari buku “Sejarah Maulid Nabi; Meneguhkan Semangat Keislaman serta Kebangsaan Mulai sejak Khaizuran 173 H sampai Habib Luthfi bin Yahya 1947 M-Sekarang)

*FP - Habib Mu

30/11/2016

Aksi Bela Islam???


Islam melarang pelacuran. Hukumnya sangat pasti dan tegas. Ketika Ahok menutup komplek pelacuran terbesar di Kalijodo, adakah aksi atas nama Islam untuk mendukungnya?
Islam melarang Narkoba. Ketika Ahok menutup diskotik Stadium dan Milles yang menjadi sarang peredaran narkoba, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?
Islam melarang korupsi. Ketika Ahok bergelut kekeuh tidak mau toleran dengan bancakan proyek-proyek APBD yang biasanya dilakukan oknum-oknum serakah, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?
Islam mewajibkan orang melaksanakan amanah.

Ketika Ahok secara ketat memerintahkan semua pegawai Pemda DKI untuk bekerja melayani rakyat, sebab gaji mereka selama ini dibayar oleh duit rakyat, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?
Islam memerintahkan membangun rumah ibadah. Ketika Ahok membangun mesjid di Balaikota dan Mesjid Raya Jakarta di Daan Mogot, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?
Islam mengajarkan kebersihan. Ketika Ahok mengeruk kali-kali dan membersihkan sampah agar Jakarta terhindar dari banjir, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan seorang yang diamanahkan memegang jabatan untuk memperhatikan semua warganya. Ketika Ahok setiap pagi meluangkan waktu menyelesaikan masalah semua orang yang datang ke Balai Kota, dengan menggunakan dana operasional Gubernur, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?
Islam mengajarkan berhati-hati saat mencari rezeki. Gubernur DKI mendapat dana operasional Rp 60 milyar setahun. Dana itu bisa diambil untuk diri sendiri. Tapi Ahok menggunakannya untuk membantu banyak orang, dan ketika masih tersisa diakhir tahun, dana itu dikembalikan ke kas negara. Padahal jika dia membawa pulang, itu bukan pelanggaran hukum. Itu sudah menjadi hak pemangku jabatan Gubernur. Adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan pentingnya pendidikan. Ketika Ahok kondisiten membagikan KJP dan angka putus sekolah di DKI nyaris 0%, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?
Islam mementingkan kesejahteraan. Ketika kini angka pengangguran di DKI menurun drastis (salah satunya karena program pasukan Biru, Oranye, Ungu) adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?
Islam mementingkan pengembangan psikologi anak-anak. Salah satunya dengan ruang beremain yang sehat. Ketika Ahok membangun ratusan ruang bermain hijau untuk anak-anak Jakarta, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan memuliakan wanita dan memperhatikan anak-anak. Ketika Ahok dalam banyak fasilitas publik (bus, ruang laktasi, RTPA) memperhatikan kaum wanita, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?
Islam mengajarkan bicara yang baik. Ketika Ahok terpeleset omongan di P. Seribu, dan sudah meminta maaf, banyak orang tergerak untuk membela agamanya. Publik juga tahu omongan itu viral salah satunya karena teks yang diedit. Polisi juga sudah mengusut kasusnya, tapi pembela-pembala agama itu tidak cukup puas. Mereka ingin Ahok di penjara.
Di penjara karena tindakan jahatnya? Bukan!
Ahok harus dipenjara karena kepleset mulutnya!
-Eko Kuntadhi-

Kabar Sepekan: